INDORAYA – Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, Jawa Tengah mencatat beragam aktivitas sepanjang tahun 2025. Mulai dari penanganan kebakaran, kejadian non-kebakaran dan penyelamatan, kegiatan sosialisasi, hingga pemeriksaan gedung.
Berdasarkan data yang diterima Indoraya.News, jumlah kejadian kebakaran di Kota Semarang menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 tercatat sebanyak 495 kasus kebakaran, kemudian turun menjadi 349 kasus pada 2024, dan kembali menurun menjadi 282 kasus pada 2025.
Sebaliknya, kejadian non-kebakaran dan penyelamatan justru mengalami lonjakan signifikan. Pada 2023 tercatat sebanyak 1.103 kejadian, meningkat menjadi 1.389 kejadian pada 2024, dan melonjak tajam menjadi 1.912 kejadian sepanjang 2025.
Selain penanganan kejadian, Damkar Kota Semarang juga gencar melakukan upaya pencegahan.
Sepanjang 2025, tercatat sebanyak 307 kegiatan sosialisasi pencegahan kebakaran yang melibatkan 22.132 peserta dari berbagai lapisan masyarakat.
Adapun untuk pemeriksaan gedung, Damkar mencatat sebanyak 1.263 gedung diperiksa sepanjang 2025.
Jumlah tersebut meningkat signifikan dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 608 gedung dan 275 gedung pada 2023.
Sebagai informasi, sebagian besar kejadian kebakaran di Kota Semarang terjadi pada ilalang kering dan rumah-rumah warga. Sementara itu, kebakaran di kawasan pertokoan maupun pabrik tercatat relatif jarang terjadi.
Meski tren kebakaran menurun, sepanjang 2025 tetap tercatat tragedi kemanusiaan. Damkar Kota Semarang mencatat enam orang meninggal dunia akibat kebakaran.
Tragedi terbesar terjadi di Kelurahan Mlatibaru, Kecamatan Semarang Timur, saat satu keluarga tidak sempat menyelamatkan diri dan lima orang meninggal dunia.
Satu korban lainnya merupakan seorang lanjut usia yang meninggal dunia setelah terjebak di kamar mandi saat kebakaran di Kecamatan Candisari.
Di luar peristiwa tersebut, insiden kebakaran lainnya umumnya hanya menimbulkan kerugian materi dengan nilai yang beragam.
Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, menyampaikan bahwa tren penurunan angka kebakaran tidak terlepas dari masifnya kegiatan sosialisasi yang dilakukan dalam dua setengah tahun terakhir.
Upaya edukasi kepada masyarakat tersebut dilakukan secara intensif melalui berbagai kegiatan, termasuk pemanfaatan media sosial. Dampaknya, menurut Ade, mulai terlihat secara nyata, dengan jumlah kebakaran yang sebelumnya berada di kisaran 490-an kasus kini berhasil ditekan hingga sekitar 280-an kasus.
Menurut Ade, penurunan tersebut sejalan dengan tujuan utama Damkar, yakni meningkatkan kesadaran masyarakat melalui sosialisasi pencegahan kebakaran.
“Di tahun 2025 saja lebih dari 22.000 orang yang terlibat kegiatan sosialisasi. Meski, kami enggak punya hitungan yang pasti ya indikator-indikatornya, tapi dari jumlah kejadian kebakaran dan aware-nya masyarakat terhadap hal-hal kecil yang ada di rumah terkait pemilihan kabel, terkait kegiatan mereka bakar-bakaran di rumah mulai berkurang, dan pastinya itu juga menjadi efek domino ketika kejadian kebakaran itu juga akan berkurang,” jelas Ade saat dikonfirmasi Indoraya.News, Selasa (6/1/2026).
Di sisi lain, Ade menjelaskan bahwa lonjakan penanganan kejadian non-kebakaran menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat Kota Semarang terhadap peran Damkar.
Menurutnya, warga kini semakin memahami bahwa berbagai kondisi darurat non-kebakaran juga dapat meminta bantuan Damkar.
Hal tersebut tercermin dari jumlah laporan non-kebakaran sepanjang 2025 yang menembus lebih dari 1.900 kejadian, meningkat signifikan dibandingkan 2024 yang berada di kisaran 1.360 kejadian dan 2023 sekitar 1.100 kejadian.
“Jadi, sangat drastis. Semoga kawan-kawan juga bisa melayani dengan baik dan dari situ laporan ke Bu Wali (Agustina Wilujeng Pramestuti), dan oleh Bu Wali kemarin juga sudah sudah disetujui untuk dianggarkan penambahan kendaraan non pemadam atau kendaraan rescue untuk di tahun 2026 ini,” pungkasnya.


