Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Heri Pudyatmoko: Krisis Lingkungan Harus Dijawab dengan Kepedulian Kolektif
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
BeritaJateng

Heri Pudyatmoko: Krisis Lingkungan Harus Dijawab dengan Kepedulian Kolektif

By Ainun Nafisah
Senin, 27 Okt 2025
Share
3 Min Read
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko.
SHARE

INDORAYA — Krisis lingkungan yang kian terasa di berbagai daerah Jawa Tengah, mulai dari kekeringan, banjir bandang, hingga kebakaran hutan, menjadi peringatan serius bagi semua pihak untuk tidak lagi bersikap pasif. Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kolektif seluruh lapisan masyarakat.

Menurutnya, dampak perubahan iklim sudah mulai nyata di wilayah Jawa Tengah. Beberapa daerah di pesisir selatan mengalami abrasi dan banjir rob, sementara kawasan tengah seperti Magelang dan Wonosobo menghadapi ancaman longsor akibat degradasi hutan.

“Kita sering berpikir krisis lingkungan itu tanggung jawab dinas kehutanan atau lembaga lingkungan,” ungkapnya.

“Padahal, setiap perilaku kecil manusia berkontribusi pada kondisi bumi. Jadi jawabannya adalah kepedulian kolektif, bukan sekadar program,” imbuhnya.

Heri menilai, tanpa kesadaran kolektif, berbagai program reboisasi dan penataan lingkungan hanya akan berjalan di permukaan.

Ia menekankan bahwa kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah daerah menjadi fondasi utama dalam menjaga keseimbangan ekologi di tengah tekanan pembangunan.

“Masyarakat harus jadi bagian dari solusi. Mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga, hemat air, hingga ikut dalam kegiatan penghijauan. Pemerintah daerah dan sektor swasta pun harus berkomitmen membangun dengan prinsip keberlanjutan,” katanya.

Ilustrasi: Banjir wilayah Semarang, Jawa Tengah pada Kamis (23/10/25).

Politikus Partai Gerindra itu juga menyoroti masih lemahnya sistem edukasi lingkungan di sekolah. Menurutnya, pendidikan lingkungan harus dimasukkan secara kontekstual dalam kurikulum daerah. Hal ini agar anak-anak memahami bahwa menjaga bumi bukan kewajiban tambahan, tapi bagian dari cara hidup.

“Kalau anak-anak tumbuh dengan kesadaran ekologis, maka mereka tidak akan mudah membuang sampah sembarangan atau menebang pohon tanpa reboisasi. Kita butuh generasi yang punya empati ekologis, bukan hanya pengetahuan teoretis,” tegasnya.

Selain edukasi, Heri juga mendorong pemerintah provinsi memperkuat program adaptasi perubahan iklim dengan melibatkan komunitas lokal.

Menurut Heri, krisis lingkungan sejatinya adalah krisis kesadaran manusia terhadap batas-batas alam. Karena itu, kepedulian kolektif harus tumbuh dari nilai-nilai gotong royong yang sudah lama menjadi karakter masyarakat Jawa Tengah.

“Kalau dulu gotong royong dilakukan untuk bangun rumah tetangga, sekarang harus dilakukan untuk menyelamatkan bumi bersama. Ini bukan isu global semata, tapi tanggung jawab moral kita sebagai manusia,” pungkasnya. [Adv]

TAGGED:Heri PudyatmokoKepedulian KolektifKrisis Lingkungan
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Desa Tempur Jepara Tak Lagi Terisolasi, Penanganan Banjir Terus Berlanjut Selasa, 13 Jan 2026
  • Apple Gandeng Google, Gemini Disiapkan Jadi Fondasi AI di iPhone dan Siri Selasa, 13 Jan 2026
  • Program Demak Cerdas Perluas Akses Internet SMP Negeri, Perpustakaan Digital Jadi Fokus Selasa, 13 Jan 2026
  • Belum Naik, Harga Daging Sapi di Batang Masih Stabil Awal Januari Selasa, 13 Jan 2026
  • Dilanda Cuaca Ekstrem dan Banjir, Kudus Siaga Bencana Hingga 19 Januari Selasa, 13 Jan 2026
  • 530 Hektare Lahan di Batang Bakal Ditanami Padi Biosalin Tahun Ini Selasa, 13 Jan 2026
  • Pemerintah Siap Ekspor Beras Awal 2026, Bulog Disiapkan Serap Panen Raya Selasa, 13 Jan 2026

Berita Lainnya

Pendidikan

Program Demak Cerdas Perluas Akses Internet SMP Negeri, Perpustakaan Digital Jadi Fokus

Selasa, 13 Jan 2026
Ekonomi

Belum Naik, Harga Daging Sapi di Batang Masih Stabil Awal Januari

Selasa, 13 Jan 2026
Jateng

Dilanda Cuaca Ekstrem dan Banjir, Kudus Siaga Bencana Hingga 19 Januari

Selasa, 13 Jan 2026
Ekonomi

530 Hektare Lahan di Batang Bakal Ditanami Padi Biosalin Tahun Ini

Selasa, 13 Jan 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?