INDORAYA – Gelombang cuaca ekstrem yang melanda Kota Semarang, Jawa Tengah dalam beberapa hari terakhir memicu sejumlah bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir hingga tanah longsor. Hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang membuat sejumlah wilayah, khususnya di kawasan barat Kota Semarang, tak mampu menahan limpahan air.
Berdasarkan laporan Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) PMI Kota Semarang, banjir mulai merendam permukiman warga di sepanjang Jalan Gunung Jati Selatan, RT 1 hingga RT 8 RW 2, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, pada Kamis (15/1/2026) sekitar pukul 21.00 WIB.
Kepala Subbag Penanggulangan Bencana PMI Kota Semarang, M. Abdul Rafi, menyampaikan bahwa PMI terus mengaktifkan posko siaga 24 jam untuk memantau kondisi di berbagai titik rawan bencana. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas hujan lebat yang mengguyur hampir seluruh wilayah Kota Semarang.
“Berdasarkan keterangan Ketua RW 02, luapan Sungai Plumbon mengakibatkan permukiman warga di Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, terendam banjir dengan ketinggian air sekitar 80–100 cm. Ketua RW 02 kemudian meminta bantuan Posko PMI Kota Semarang untuk melakukan evakuasi warga terdampak,” ungkapnya, saat ditemui wartawan, Kamis (22/1/2026).
Hasil asesmen relawan PMI menunjukkan, banjir di wilayah tersebut kini telah surut. Meski demikian, akses jalan menuju lokasi masih tertutup lumpur sisa genangan air.
“Dapur umum mandiri dilaksanakan di RT 9 RW 2 dekat pos kamling hasil swadaya masyarakat kelompok Jumat Berkah. Dapur umum mencakup kurang lebih 9 RT dan warga sudah kembali beraktivitas normal,” urainya.
Tanah Longsor
Selain banjir, cuaca ekstrem juga memicu pergerakan tanah yang menyebabkan longsor di sejumlah titik di wilayah Semarang Barat. Salah satu kejadian longsor dilaporkan terjadi di Jalan Simongan Nomor 1, Kelurahan Bojongsalaman, pada Jumat malam (16/1/2026) sekitar pukul 21.00 WIB.
“Berdasarkan informasi dari WA Grup terjadi talut longsor yang menyebabkan tembok gereja roboh dan menimpa 2 rumah warga, bagian dapur rumah Pak Ferdi dan Pak Bayu,” jelasnya.
Dari hasil pendataan relawan PMI, longsor tersebut berdampak pada tiga kepala keluarga dengan total 10 jiwa. Mereka terdiri dari dua perempuan dewasa, tiga laki-laki dewasa, tiga perempuan lansia, satu lansia laki-laki, dan seorang balita.
“Kerusakan rumah huni bagian dapur kondisi rusak ringan,” paparnya.
Peristiwa serupa juga terjadi di Jalan Abdulrahman Saleh Nomor 180, Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, pada hari yang sama sekitar pukul 00.25 WIB. Namun, kejadian tersebut hanya mengakibatkan kerusakan pada bagian teras rumah warga tanpa korban jiwa.
Kepala Markas PMI Kota Semarang, dr. Anna Kartika Y., M.Biomed, menegaskan bahwa pihaknya terus menyiagakan posko layanan selama 24 jam bersama para relawan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana susulan.
Ia menyampaikan, bantuan yang diterima masyarakat merupakan bentuk pengembalian dari kegiatan Bulan Dana PMI yang dikemas dalam konsep Bulan Kemanusiaan dan rutin dilaksanakan setiap tahun.
“Harapan kami layanan yang diberikan PMI dapat bermanfaat bagi masyarakat khususnya di wilayah Kota Semarang,” tuturnya.


