INDORAYA – Pasca kejadian hidran yang tertimbun cor akibat proyek perbaikan jalan di Jalan Majapahit, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah, Perumda Air Minum Tirta Moedal Kota Semarang bersama Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang akan menggelar rapat koordinasi dalam waktu dekat.
Rapat tersebut direncanakan sebagai langkah evaluasi sekaligus sinkronisasi data hidran agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.
Sekretaris Damkar Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengapresiasi respons cepat PDAM setelah dirinya bersama anggota melakukan pengecekan langsung ke lokasi hidran di Jalan Majapahit. Menurutnya, penanganan dilakukan dalam hitungan jam setelah pengecekan di lapangan.
“Pasca kejadian di Majapahit sudah ada komunikasi, bahkan sebelumnya juga sudah berkomunikasi dengan PDAM. Pelaksana Tugas Direktur Utama PDAM, Pak Hernowo, sudah berkoordinasi. Kemarin eksekusinya cepat, setelah kami datang, selang beberapa jam langsung digeser,” ungkap Ade saat dikonfirmasi Indoraya.News melalui pesan WhatsApp, Selasa (6/1/2026).
“Hanya saja problemnya, pihak kontraktor seharusnya berkomunikasi lebih dulu. Dalam rapat di DPU BMCK Jateng, saat pra-pelaksanaan sebenarnya PDAM juga hadir. Ketika ada kendala, seharusnya dikomunikasikan dulu, bukan dipindah lalu dicor. Pemindahannya sendiri sebenarnya cepat,” lanjutnya.
Ade menjelaskan, rapat koordinasi antara Damkar dan PDAM direncanakan berlangsung pada Rabu atau Kamis (7–8/1/2026). Agenda utama rapat adalah evaluasi menyeluruh sekaligus penyamaan data hidran yang dimiliki masing-masing instansi.
“Rencana kami minggu ini rapat dengan PDAM. Awalnya direncanakan Selasa pagi pukul 10.00 WIB, tetapi karena banyak agenda di Pemkot, kemungkinan diundur ke Rabu atau Kamis,” ungkapnya.
“Kami memiliki data sendiri, PDAM juga memiliki data. Nantinya akan kami sinkronkan, mulai dari titik hidran yang ada tetapi fisiknya tidak ditemukan, debit air yang tidak maksimal, hingga hidran yang krannya tidak bisa dibuka,” imbuhnya.
Menurut Ade, dari total 79 titik, seluruhnya sudah didata oleh pihaknya. Adapun saat rapat nanti, akan dipaparkan satu per satu agar menjadi koreksi bersama.
“Hal ini agar pelayanan kepada masyarakat dari Pemkot, baik PDAM maupun Damkar, semakin meningkat,” ujarnya.
Ia menambahkan, komunikasi antara Damkar dan PDAM sebenarnya telah terjalin sejak sebelum insiden di Jalan Majapahit, bahkan sudah berlangsung sejak November 2025 lalu.
“Kami sudah berkomunikasi sejak awal, bahkan sebelum kejadian di Majapahit. Rembukan dan diskusi ini sudah berlangsung lama, karena pasokan air sangat dibutuhkan ketika terjadi kebakaran,” kata Ade.
Lebih lanjut, Ade menegaskan bahwa koordinasi lintas instansi menjadi kunci utama dalam memastikan hidran berfungsi optimal. Meski demikian, ia mengakui masih terdapat hidran lama yang kondisi dan fungsinya belum terpantau secara menyeluruh.
Oleh karena itu, pengecekan rutin bersama antara Damkar dan PDAM dinilai penting, mengingat PDAM memiliki peralatan serta kewenangan teknis dalam pengelolaan hidran.
“Harapan kami, titik-titik pilar hidran ke depan tidak hanya ditambah jumlahnya, tetapi juga kualitas airnya harus memenuhi persyaratan. Bukan sekadar mengalir, tetapi debitnya cukup ketika terjadi kebakaran. Sehingga saat mobil pemadam datang, pengisian air ke tangki bisa berlangsung cepat,” pungkasnya.


