INDORAYA – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Kota Semarang sejak Desember 2025 hingga awal 2026 berdampak langsung pada aktivitas nelayan. Sejumlah nelayan kerang di kawasan Tambakrejo dan Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, mengeluhkan hasil tangkapan yang merosot drastis akibat gelombang laut tinggi.
Salah satu nelayan kerang asal Tambakrejo, Imam Mahmud Harianto (34) mengatakan, kondisi cuaca ekstrem telah berlangsung sejak pertengahan Desember dan masih terasa hingga Januari ini.
Gelombang laut yang tinggi membuat dirinya tidak bisa melaut setiap hari karena dinilai terlalu berisiko bagi keselamatan.
“Kalau ke laut kadang seminggu cuma tiga atau empat hari. Hasil tangkapan jelas menurun. Kalau cuaca ekstrem itu paling dapat 30 sampai 40 kilo. Kalau normal bisa satu kwintal sampai satu setengah kwintal,” ujar Imam saat ditemui di rumahnya, Rabu (7/1/2026) malam.
Ia menjelaskan, dalam kondisi cuaca normal, hasil tangkapan kerang hijau bisa mencapai 1 hingga 1,5 kwintal sekali melaut. Namun saat cuaca ekstrem, jumlah tersebut anjlok hingga hanya tersisa seperempatnya.
Meski hasil tangkapan menurun, harga jual kerang justru mengalami kenaikan. Imam menyebutkan, saat cuaca ekstrem harga kerang bisa mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram, sementara pada kondisi normal hanya sekitar Rp5.000 per kilogram.
“Kalau cuaca ekstrem harganya bisa Rp6.000 sampai Rp7.000. Kalau normal ya sekitar Rp5.000-an,” tuturnya.
Namun, kenaikan harga tersebut dinilai tidak mampu menutup kerugian akibat minimnya hasil tangkapan. Bahkan, Imam mengaku sempat tidak melaut hampir dua bulan saat cuaca ekstrem melanda pada 2024 lalu.
Selain menekan pendapatan, cuaca ekstrem juga meningkatkan risiko keselamatan nelayan. Menurut Imam, gelombang tinggi membuat nelayan kesulitan mencari kerang hijau karena ombak menggerus hingga ke dasar laut.
Kondisi tersebut kerap menyebabkan tubuh nelayan terluka akibat terseret ombak dan terkena tiram yang menempel di dasar laut. Luka-luka tersebut tidak hanya menimbulkan rasa perih, tetapi juga berisiko menyebabkan gangguan kesehatan.
“Kalau ombak besar itu dampaknya berat buat nelayan. Mau mencari kerang hijau jadi sangat susah. Ombaknya menggerus sampai dasar laut, badan bisa luka-luka kena tiram. Itu bisa menyebabkan sakit,” keluhnya.
Imam menuturkan, cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung hingga Februari 2026, dengan puncak gelombang biasanya terjadi pada Januari.
“Biasanya cuaca seperti ini dari Desember sampai Februari. Kalau tahun ini, mudah-mudahan Januari ini sudah puncaknya dan Februari bisa mulai membaik,” ujarnya.
Ia pun berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada nelayan yang terdampak cuaca ekstrem, terutama bagi mereka yang terpaksa tidak melaut dan kehilangan sumber penghasilan.
“Harapan nelayan ya pemerintah bisa memperhatikan. Kalau nelayan tidak bisa melaut, kasihan anak istri,” pungkasnya.


