Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Cuaca Ekstrem Hantam Laut Semarang: Tangkapan Nelayan Anjlok, Risiko Kesehatan Mengintai
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Berita

Cuaca Ekstrem Hantam Laut Semarang: Tangkapan Nelayan Anjlok, Risiko Kesehatan Mengintai

By Dickri Tifani
Rabu, 07 Jan 2026
Share
3 Min Read
Ilustrasi cuaca ekstrem menghambat aktivitas nelayan di Semarang, Jawa Tengah.
SHARE

INDORAYA – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Kota Semarang sejak Desember 2025 hingga awal 2026 berdampak langsung pada aktivitas nelayan. Sejumlah nelayan kerang di kawasan Tambakrejo dan Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, mengeluhkan hasil tangkapan yang merosot drastis akibat gelombang laut tinggi.

Salah satu nelayan kerang asal Tambakrejo, Imam Mahmud Harianto (34) mengatakan, kondisi cuaca ekstrem telah berlangsung sejak pertengahan Desember dan masih terasa hingga Januari ini.

Gelombang laut yang tinggi membuat dirinya tidak bisa melaut setiap hari karena dinilai terlalu berisiko bagi keselamatan.

“Kalau ke laut kadang seminggu cuma tiga atau empat hari. Hasil tangkapan jelas menurun. Kalau cuaca ekstrem itu paling dapat 30 sampai 40 kilo. Kalau normal bisa satu kwintal sampai satu setengah kwintal,” ujar Imam saat ditemui di rumahnya, Rabu (7/1/2026) malam.

Ia menjelaskan, dalam kondisi cuaca normal, hasil tangkapan kerang hijau bisa mencapai 1 hingga 1,5 kwintal sekali melaut. Namun saat cuaca ekstrem, jumlah tersebut anjlok hingga hanya tersisa seperempatnya.

Meski hasil tangkapan menurun, harga jual kerang justru mengalami kenaikan. Imam menyebutkan, saat cuaca ekstrem harga kerang bisa mencapai Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram, sementara pada kondisi normal hanya sekitar Rp5.000 per kilogram.

“Kalau cuaca ekstrem harganya bisa Rp6.000 sampai Rp7.000. Kalau normal ya sekitar Rp5.000-an,” tuturnya.

Namun, kenaikan harga tersebut dinilai tidak mampu menutup kerugian akibat minimnya hasil tangkapan. Bahkan, Imam mengaku sempat tidak melaut hampir dua bulan saat cuaca ekstrem melanda pada 2024 lalu.

Selain menekan pendapatan, cuaca ekstrem juga meningkatkan risiko keselamatan nelayan. Menurut Imam, gelombang tinggi membuat nelayan kesulitan mencari kerang hijau karena ombak menggerus hingga ke dasar laut.

Kondisi tersebut kerap menyebabkan tubuh nelayan terluka akibat terseret ombak dan terkena tiram yang menempel di dasar laut. Luka-luka tersebut tidak hanya menimbulkan rasa perih, tetapi juga berisiko menyebabkan gangguan kesehatan.

“Kalau ombak besar itu dampaknya berat buat nelayan. Mau mencari kerang hijau jadi sangat susah. Ombaknya menggerus sampai dasar laut, badan bisa luka-luka kena tiram. Itu bisa menyebabkan sakit,” keluhnya.

Imam menuturkan, cuaca ekstrem diperkirakan masih akan berlangsung hingga Februari 2026, dengan puncak gelombang biasanya terjadi pada Januari.

“Biasanya cuaca seperti ini dari Desember sampai Februari. Kalau tahun ini, mudah-mudahan Januari ini sudah puncaknya dan Februari bisa mulai membaik,” ujarnya.

Ia pun berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada nelayan yang terdampak cuaca ekstrem, terutama bagi mereka yang terpaksa tidak melaut dan kehilangan sumber penghasilan.

“Harapan nelayan ya pemerintah bisa memperhatikan. Kalau nelayan tidak bisa melaut, kasihan anak istri,” pungkasnya.

TAGGED:Cuaca ekstrem SemarangHasil Tangkapan Nelayan TurunNelayan Semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Metro Park View Kota Lama Buka Lembaran Baru, Ninik Haryanti Resmi Jadi General Manager Kamis, 08 Jan 2026
  • DPRD Semarang Tanggapi Polemik Hidran Tercor di Pedurungan; Jangan Tunggu Viral Baru Kerja Kamis, 08 Jan 2026
  • Honorer Resmi Dihapus 2026, BKN Buka Peluang Daerah Ajukan Rekrutmen PPPK Isi Berita  Kamis, 08 Jan 2026
  • Pendapatan Wisata Jateng Lampaui Bali, Ahmad Luthfi Fokus Garap Wisata Ramah Muslim Kamis, 08 Jan 2026
  • Pendapatan Wisata Jateng Tertinggi Nasional, Capai Rp2,77 Triliun pada 2024 Kamis, 08 Jan 2026
  • Lonjakan Cabai Rawit Tekan Inflasi Jateng, Kota Semarang Tertinggi Sepanjang 2025 Kamis, 08 Jan 2026
  • Enam Kecamatan di Semarang Masuk Zona Merah Longsor, DPRD Desak Audit Infrastruktur Kamis, 08 Jan 2026

Berita Lainnya

Pendidikan

Honorer Resmi Dihapus 2026, BKN Buka Peluang Daerah Ajukan Rekrutmen PPPK Isi Berita 

Kamis, 08 Jan 2026
Ekonomi

Pendapatan Wisata Jateng Lampaui Bali, Ahmad Luthfi Fokus Garap Wisata Ramah Muslim

Kamis, 08 Jan 2026
EkonomiGaya Hidup

Pendapatan Wisata Jateng Tertinggi Nasional, Capai Rp2,77 Triliun pada 2024

Kamis, 08 Jan 2026
Ekonomi

Lonjakan Cabai Rawit Tekan Inflasi Jateng, Kota Semarang Tertinggi Sepanjang 2025

Kamis, 08 Jan 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?