INDORAYA – Provinsi Jawa Tengah mencatatkan pendapatan tertinggi dari sektor daya tarik wisata komersial secara nasional pada 2024. Berdasarkan rilis CNBC Indonesia Research yang mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), pendapatan pariwisata Jateng mencapai Rp2,77 triliun.
Pencapaian tersebut mendapat apresiasi dari Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Provinsi Jawa Tengah. Disporapar Jateng, Muhammad Masrofi, menilai data tersebut menjadi referensi penting bagi masyarakat dan pemangku kepentingan dalam melihat arah perkembangan pariwisata nasional.
“Kami mengapresiasi CNBC Indonesia Research yang telah merilis data pendapatan objek daya tarik wisata komersial tahun 2024 berdasarkan publikasi BPS. Data ini sangat berharga untuk memahami dinamika pariwisata nasional sekaligus mendorong sinergi antarprovinsi,” ujar Masrofi.
Ia menyebut, capaian pendapatan tertinggi secara nasional menjadi kabar positif bagi Jawa Tengah. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif di Jateng berada pada jalur yang tepat.
“Jawa Tengah sebagai provinsi dengan pendapatan tertinggi, yaitu Rp2,77 triliun pada 2024, tentu sangat menggembirakan. Ini memvalidasi bahwa pembangunan pariwisata dan ekonomi kreatif Jawa Tengah sudah on the right track, melalui ekosistem destination system yang inklusif dan melibatkan masyarakat serta UMKM,” jelasnya.
Masrofi menambahkan, capaian tersebut sejalan dengan visi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang menempatkan Jawa Tengah sebagai Provinsi Ekonomi Kreatif serta menargetkan 2027 sebagai tahun pariwisata.
Data BPS dan Disporapar Jateng periode 2023–2025 juga menunjukkan tren peningkatan signifikan. Pada 2024, jumlah kunjungan wisatawan ke daya tarik wisata di Jawa Tengah mencapai 69,48 juta kunjungan, termasuk 593.168 wisatawan mancanegara.
Sementara perjalanan wisatawan nusantara tujuan Jateng tercatat 146,84 juta perjalanan atau meningkat 26,33 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi sektor pariwisata, khususnya subsektor penyediaan akomodasi dan makan minum, mencapai 10,03 persen pada 2024. Pertumbuhan tersebut tercermin dari peningkatan jumlah hotel bintang menjadi 396 unit dan hotel nonbintang sebanyak 1.892 unit, disertai tingkat penghunian kamar yang relatif stabil.
“Nilai tambah ekonomi kreatif Jawa Tengah juga terus tumbuh. Pada semester I 2025, ekspor produk ekonomi kreatif Jateng mencapai Rp53 triliun, peringkat kedua nasional, serta investasi sektor ekonomi kreatif sebesar Rp11,45 triliun atau peringkat ketiga nasional,” ungkap Masrofi.
Ia menilai, daya saing pariwisata dan ekonomi kreatif Jawa Tengah semakin kuat dengan dukungan 1.626 daya tarik wisata yang tersebar merata di 35 kabupaten/kota pada 2025, aksesibilitas yang kian prima, serta amenitas dan atraksi wisata yang terus berkembang.
Jawa Tengah juga tercatat memiliki 12 kabupaten/kota kreatif, terbanyak di Indonesia. Selain itu, Pemprov Jateng berkomitmen mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif secara berkelanjutan sesuai RPJMD 2025–2029 dan rencana strategis dinas terkait.
Salah satu target utama adalah pengembangan hingga 1.000 desa wisata sampai 2029, disertai pelatihan konten kreator desa wisata, penguatan ekonomi kreatif tingkat kecamatan, serta fasilitasi pembiayaan dan hilirisasi produk unggulan.
“Data positif ini semakin menyemangati kami untuk terus berinovasi. Kami optimistis Jawa Tengah dapat berkontribusi lebih besar bagi target nasional menuju Indonesia Emas 2045,” pungkas Masrofi.


