INDORAYA – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Kota Semarang pada 2024 lalu menjadi pengalaman pahit bagi nelayan kerang di wilayah pesisir. Salah satunya dialami Imam Mahmud Harianto (34), nelayan asal Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara.
Imam mengungkapkan, gelombang laut tinggi akibat cuaca ekstrem sempat memaksa dirinya bersama rekan-rekan nelayan berhenti melaut hingga dua bulan penuh pada 2024. Kondisi serupa kembali dirasakan sejak pertengahan Desember 2025 hingga Januari 2026 ini.
“Pernah, tahun 2024 itu sampai dua bulan tidak melaut. Kalau sekarang ke laut kadang dalam seminggu cuma tiga atau empat hari,” ungkap Imam saat ditemui Indoraya.News di rumahnya, Rabu (7/1/2026) malam.
Menurutnya, cuaca ekstrem membuat aktivitas melaut sangat berisiko. Gelombang laut yang tinggi tidak hanya membatasi frekuensi melaut, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan hasil tangkapan.
Dalam kondisi cuaca normal, Imam mengaku mampu mengumpulkan kerang hingga 1–1,5 kuintal per hari. Namun, saat cuaca ekstrem, hasil tangkapan merosot tajam, hanya berkisar 30 hingga 40 kilogram.
“Hasil tangkapan jelas menurun. Kalau cuaca ekstrem itu paling dapat 30 sampai 40 kilo. Kalau normal bisa satu kuintal sampai satu setengah kuintal,” ujarnya.
Meski produksi menurun, harga jual kerang justru mengalami kenaikan. Imam menyebut, harga kerang yang biasanya berada di kisaran Rp5.000 per kilogram dapat meningkat menjadi Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram saat cuaca ekstrem.
“Kalau cuaca ekstrem harganya bisa Rp6.000 sampai Rp7.000. Kalau normal ya sekitar Rp5.000-an,” tuturnya.
Lebih jauh, Imam menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dengan ombak besar juga mengancam keselamatan nelayan. Gelombang tinggi kerap menggerus dasar laut, sehingga menyulitkan pencarian kerang hijau.
Kondisi tersebut sering menyebabkan tubuh nelayan terluka, bahkan sobek, akibat terseret ombak dan terkena tiram. Luka-luka itu, menurutnya, tidak hanya menimbulkan rasa perih, tetapi juga berisiko memicu penyakit.
“Kalau ombak besar itu dampaknya berat buat nelayan. Mau mencari kerang hijau jadi sangat susah. Ombaknya menggerus sampai dasar laut, badan bisa luka-luka kena tiram. Itu bisa menyebabkan sakit,” keluhnya.
Ia pun berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada nelayan pesisir yang terpaksa kehilangan penghasilan akibat cuaca ekstrem.
“Harapan nelayan ya pemerintah bisa memperhatikan. Kalau nelayan tidak bisa melaut, kasihan anak istri,” pungkas Imam.


