Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Cuaca Ekstrem Bikin Nelayan Kerang Semarang Trauma, Dua Bulan Tak Melaut
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Berita

Cuaca Ekstrem Bikin Nelayan Kerang Semarang Trauma, Dua Bulan Tak Melaut

By Dickri Tifani
Rabu, 07 Jan 2026
Share
3 Min Read
Nelayan kerang asal Tambakrejo, Semarang, Jawa Tengah, Imam Mahmud Harianto. (Foto: Dickri Tifani Badi/INDORAYA)
SHARE

INDORAYA – Cuaca ekstrem yang melanda perairan Kota Semarang pada 2024 lalu menjadi pengalaman pahit bagi nelayan kerang di wilayah pesisir. Salah satunya dialami Imam Mahmud Harianto (34), nelayan asal Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara.

Imam mengungkapkan, gelombang laut tinggi akibat cuaca ekstrem sempat memaksa dirinya bersama rekan-rekan nelayan berhenti melaut hingga dua bulan penuh pada 2024. Kondisi serupa kembali dirasakan sejak pertengahan Desember 2025 hingga Januari 2026 ini.

“Pernah, tahun 2024 itu sampai dua bulan tidak melaut. Kalau sekarang ke laut kadang dalam seminggu cuma tiga atau empat hari,” ungkap Imam saat ditemui Indoraya.News di rumahnya, Rabu (7/1/2026) malam.

Menurutnya, cuaca ekstrem membuat aktivitas melaut sangat berisiko. Gelombang laut yang tinggi tidak hanya membatasi frekuensi melaut, tetapi juga berdampak langsung pada penurunan hasil tangkapan.

Dalam kondisi cuaca normal, Imam mengaku mampu mengumpulkan kerang hingga 1–1,5 kuintal per hari. Namun, saat cuaca ekstrem, hasil tangkapan merosot tajam, hanya berkisar 30 hingga 40 kilogram.

“Hasil tangkapan jelas menurun. Kalau cuaca ekstrem itu paling dapat 30 sampai 40 kilo. Kalau normal bisa satu kuintal sampai satu setengah kuintal,” ujarnya.

Meski produksi menurun, harga jual kerang justru mengalami kenaikan. Imam menyebut, harga kerang yang biasanya berada di kisaran Rp5.000 per kilogram dapat meningkat menjadi Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram saat cuaca ekstrem.

“Kalau cuaca ekstrem harganya bisa Rp6.000 sampai Rp7.000. Kalau normal ya sekitar Rp5.000-an,” tuturnya.

Lebih jauh, Imam menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dengan ombak besar juga mengancam keselamatan nelayan. Gelombang tinggi kerap menggerus dasar laut, sehingga menyulitkan pencarian kerang hijau.

Kondisi tersebut sering menyebabkan tubuh nelayan terluka, bahkan sobek, akibat terseret ombak dan terkena tiram. Luka-luka itu, menurutnya, tidak hanya menimbulkan rasa perih, tetapi juga berisiko memicu penyakit.

“Kalau ombak besar itu dampaknya berat buat nelayan. Mau mencari kerang hijau jadi sangat susah. Ombaknya menggerus sampai dasar laut, badan bisa luka-luka kena tiram. Itu bisa menyebabkan sakit,” keluhnya.

Ia pun berharap pemerintah memberikan perhatian lebih kepada nelayan pesisir yang terpaksa kehilangan penghasilan akibat cuaca ekstrem.

“Harapan nelayan ya pemerintah bisa memperhatikan. Kalau nelayan tidak bisa melaut, kasihan anak istri,” pungkas Imam.

TAGGED:Cuaca ekstrem SemarangNasib Nelayan SemarangNelayan Semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Metro Park View Kota Lama Buka Lembaran Baru, Ninik Haryanti Resmi Jadi General Manager Kamis, 08 Jan 2026
  • DPRD Semarang Tanggapi Polemik Hidran Tercor di Pedurungan; Jangan Tunggu Viral Baru Kerja Kamis, 08 Jan 2026
  • Honorer Resmi Dihapus 2026, BKN Buka Peluang Daerah Ajukan Rekrutmen PPPK Isi Berita  Kamis, 08 Jan 2026
  • Pendapatan Wisata Jateng Lampaui Bali, Ahmad Luthfi Fokus Garap Wisata Ramah Muslim Kamis, 08 Jan 2026
  • Pendapatan Wisata Jateng Tertinggi Nasional, Capai Rp2,77 Triliun pada 2024 Kamis, 08 Jan 2026
  • Lonjakan Cabai Rawit Tekan Inflasi Jateng, Kota Semarang Tertinggi Sepanjang 2025 Kamis, 08 Jan 2026
  • Enam Kecamatan di Semarang Masuk Zona Merah Longsor, DPRD Desak Audit Infrastruktur Kamis, 08 Jan 2026

Berita Lainnya

Pendidikan

Honorer Resmi Dihapus 2026, BKN Buka Peluang Daerah Ajukan Rekrutmen PPPK Isi Berita 

Kamis, 08 Jan 2026
Ekonomi

Pendapatan Wisata Jateng Lampaui Bali, Ahmad Luthfi Fokus Garap Wisata Ramah Muslim

Kamis, 08 Jan 2026
EkonomiGaya Hidup

Pendapatan Wisata Jateng Tertinggi Nasional, Capai Rp2,77 Triliun pada 2024

Kamis, 08 Jan 2026
Ekonomi

Lonjakan Cabai Rawit Tekan Inflasi Jateng, Kota Semarang Tertinggi Sepanjang 2025

Kamis, 08 Jan 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?