INDORAYA – Jalan Prof. Dr. Hamka di kawasan Ngaliyan, Semarang, tepatnya di tanjakan Silayur, masih menjadi lokasi rawan kecelakaan. Baru-baru ini, sebuah truk molen diduga tidak mampu menanjak, kemudian meluncur mundur sejauh 200 meter, menghantam tiang lampu dan trotoar sebelum akhirnya terguling di tengah jalan.
Menanggapi kejadian tersebut, pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai bahwa penyelesaian persoalan di kawasan Silayur tidak bisa lagi mengandalkan solusi fisik. Ia menyebutkan bahwa kondisi sekitar jalan tersebut sudah mengalami banyak perubahan, sehingga sulit dilakukan penataan ulang dari segi infrastruktur.
Pemerintah Kota Semarang sendiri sempat merancang pelandaian tanjakan dan turunan di Silayur—jalur yang dikenal sebagai ‘jalur tengkorak’ karena seringnya kecelakaan fatal. Namun, Djoko menilai rencana itu sudah tidak memungkinkan lagi.
“Tapi solusi itu sekarang sudah tidak memungkinkan,” ujarnya saat dihubungi Indoraya melalui telepon WhatsApp pada Minggu (11/5/2025).
Menurut Djoko, gagasan menjadikan jalur Silayur lebih landai seperti di kawasan Hanoman, Semarang Barat, dinilai tidak realistis. Sebagai gantinya, ia menyarankan pembangunan jalur alternatif berupa jalan lingkar. Namun, wacana ini telah beredar selama satu dekade tanpa tindak lanjut nyata.
Di samping itu, Djoko menyarankan agar pemerintah tidak lagi memberikan izin untuk pendirian pabrik atau kawasan industri di wilayah atas, terutama di sekitar BSB City.
“Sekarang, paling tidak, jangan ditambah lagi industri atau bangunan baru di atas sana,” tegasnya.
Ia juga menyoroti lemahnya penerapan aturan jam operasional bagi kendaraan berat. Meski ada pembatasan waktu melintas, pelanggaran masih sering terjadi karena perusahaan lebih mengutamakan efisiensi waktu dan biaya.
“Perusahaan tentu tidak ingin rugi kalau harus mengirim hanya satu rit muatan saat malam hari,” tuturnya.
Djoko meminta agar pemerintah dan aparat hukum lebih tegas dalam menindak pelanggaran guna menghindari jatuhnya korban di kemudian hari.
“Penindakan itu penting untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak lagi,” jelasnya.
Apalagi, keberadaan SMP Negeri 16 Semarang yang berdiri di tepi jalan tersebut meningkatkan risiko bagi siswa.
“Dulu saya juga heran kenapa sekolah dibangun di situ. Tapi sekarang yang paling mendesak adalah membangun Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) agar pelajar tidak menjadi korban kecelakaan,” pungkas Djoko.




