
INDORAYA – Rencana pemerintah menyeragamkan harga beras secara nasional mendapat dukungan dari kalangan petani. Namun, kebijakan tersebut dinilai perlu diimbangi dengan perhatian serius terhadap biaya produksi, terutama harga pupuk yang masih tinggi.
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Tengah, Bambang Raya Saputra, menyatakan dukungannya terhadap kebijakan satu harga beras yang tengah digagas pemerintah ini.
Ia menilai, langkah tersebut penting untuk menjaga stabilitas harga komoditas pangan utama di tengah masyarakat.
“Mendukung rencana itu. Namun, sebagai perwakilan HKTI, saya berharap harga beras tetap tinggi agar petani mendapatkan keuntungan. Di sisi lain, pemerintah harus mengontrol harga supaya masyarakat tidak kesulitan membeli beras,” ujar Bambang Raya saat ditemui Indoraya.News, Rabu (22/4/2026).
Meski demikian, Bambang menekankan bahwa kebijakan tersebut tidak boleh mengabaikan kondisi riil petani di lapangan, khususnya terkait tingginya harga pupuk yang selama ini menjadi beban utama.
“Petani harus bisa hidup layak, jangan ditekan dengan harga yang terlalu murah. Masalah utama ada pada mahalnya pupuk,” ucapnya.
“Jika kondisi ini terus berlanjut, petani bisa semakin menderita dan tidak ada generasi penerus,” lanjutnya.
Menurutnya, kesejahteraan petani menjadi faktor kunci dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Ia juga mengingatkan, tanpa perbaikan kondisi ekonomi petani, minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini akan terus menurun.
“Kalau petani tidak sejahtera, anak-anak mereka tidak akan mau meneruskan. Ke depan, bisa saja kita kekurangan petani,” tegasnya.
Bambang menambahkan, HKTI memiliki peran strategis sebagai penghubung antara petani dan pemerintah melalui jaringan kelompok tani dan gabungan kelompok tani (gapoktan).
“Kami memiliki gapoktan dan kelompok tani yang bisa menjadi saluran aspirasi. Pemerintah harus memahami bahwa petani perlu disejahterakan. Tidak harus mewah, yang penting layak. Dengan begitu, generasi muda akan melihat bahwa menjadi petani juga bisa hidup,” jelasnya.
Ia pun mendorong pemerintah untuk menghadirkan solusi konkret. Salah satunya melalui subsidi pupuk dan dukungan biaya produksi agar petani dapat menekan biaya dan meningkatkan margin keuntungan.
“Petani perlu dibantu, baik dari sisi pupuk maupun biaya produksi, agar harga produksi lebih rendah dan harga jual bisa lebih baik. Kalau harga terlalu rendah, kasihan petani. Kalau petani tidak hidup layak, tidak akan ada yang mau melanjutkan,” pungkasnya.



