Harga Cabai Mahal, Pedagang Makanan Terpaksa Mengurangi Porsi Cabai

Pemilik warung makan Mbak Sri yang berada di Jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Semarang atau tepatnya depan Trizz Hotel Semarang, memberikan keterangan kepada Indoraya.news soal kenaikan harga cabai, Selasa (10/1/2023). (Foto:Dickri Tifani Badi/Indoraya)

INDORAYA – Harga cabai di pasar tradisional Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng) mengalami kenaikan dengan presentase kenaikan hingga 80 persen. Hal itu membuat sebagian pemilik warung makan di Semarang mengeluh.

Salah satunya pemilik warung makan Mbak Sri yang berada di Jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari, Semarang atau tepatnya depan Trizz Hotel Semarang.

Seperti nama warungnya, Sri Lestari (38) menggerutu karena biaya bahan baku melonjak seiring dengan kenaikan harga cabai rawit merah dan cabai keriting sejak Natal hingga sekarang.

“Mengeluh, karena bahan pokok khususnya cabai. Untuk harga cabai rawit merah saat ini harganya Rp 70 ribu, cabai rawit hijau Rp65 ribu, sedangkan cabai kriting merah Rp50 ribu,” ungkap Sri saat ditemui di warungnya, Selasa (10/1/2023).

Menyikapi hal tersebut, ia tidak serta merta menaikkan harga makanan yang dijualnya lantaran persaingan antar-rumah makan di kota yang berjuluk “Kota Lumpia” cukup ketat.

Apalagi, cabai merupakan salah satu bahan pokok bagi hidangan di Rumah Makan Mbak Sri. Sehingga ia terpaksa mengurangi jumlah cabai untuk menekan biaya dan menjaga harga makanan tidak naik.

“Pinter-pinternya bakul (pedagang) agar bisa berjalan meski harga cabai naik. Kalau harga cabai naik, saya terpaksa mengurangi jumlah cabai yang penting bisa masak walaupun cita rasanya enggak terlalu pedas,” jelas dia.

Selain itu, ia juga mengalami harga cabai yang sangat pedas dengan mencapai Rp140.000 per kilogram pada tahun 2019 silam.

“Dulu pernah, harga cabai capai Rp140.000 kalau enggak salah sekitar tahun 2019. Intinya, saat harga cabai mahal pintar-pintarnya penjual. Kalau enggak begitu, mandek (berhenti) berjualan,” ucap Sri.

Saat dikonfirmasi, Kabid Pengembangan Perdagangan dan Stabilitas Harga Dinas Perdagangan Kota Semarang, Sugeng Dilianto mengatakan kenaikan harga cabai itu dipengaruhi oleh cuaca yang mengakibatkan gagal panen di sejumlah daerah.

Pasalnya, kata dia, komoditas yang mengalami kenaikan seperti cabai mayoritas merupakan komoditas dari luar kota. Cabai yang beredar di Kota Semarang rata-rata berasal dari Bandungan, Kabupaten Semarang, Magelang, dan sekitarnya.

“Cabai naik Rp70 ribu hingga Rp80 ribu itu karena intensitas hujan sangat tinggi, apalagi distribusi paling banyak dari Bandungan, dan Magelang yang kemarin mengakibatkan kebon petani rusak, “ujar Sugeng Dilianto saat dihubungi Indoraya.news, Senin (9/1/2023).

Oleh sebab itu, pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Tengah (Jateng) soal meroketnya harga cabai.

Selain berkoordinasi, Disdag Kota Semarang mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi cabai yang tidak wajar.

“Kita berkoordinasi dengan provinsi (Dinas Perdagangan), dan monitoring harga pada pedagang untuk tidak menimbun memanfaatkan momentum ini,” katanya.