Awal Tahun 2026, Investasi Jateng Tembus Rp23 Triliun Serap 92 Ribu Pekerja

Kepala DPMPTSP Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, saat konferensi pers realisasi investasi di Kantor DPMPTSP Jateng, Selasa (5/5/2026). (Foto : Lu'luil Maknun/Indoraya)

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) mencatat, realisasi investasi di Jawa Tengah pada triwulan I 2026 menembus angka Rp23,02 triliun dengan penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 92 ribu orang.

Di balik capaian tersebut, terjadi pergeseran signifikan struktur industri. Dari yang sebelumnya didominasi sektor padat karya seperti alas kaki, kini mulai bergeser ke industri padat modal seperti elektronik dan mesin.

Kepala DPMPTSP Jawa Tengah, Sakina Rosellasari mengungkapkan, posisi teratas realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) kini ditempati industri mesin, elektronik, dan instrumen kedokteran.

Sektor tersebut telah menggeser dominasi industri sepatu. Perubahan ini turut memengaruhi penurunan serapan tenaga kerja sekitar 0,35 persen jika dibandingkan triwulan I 2025.

“Ini adalah efek dari shifting. Industri elektronik dan listrik itu karakternya padat modal yang lebih banyak menggunakan mesin dan sistem computerized. Jadi, butuh tenaga kerja lebih sedikit namun dengan kompetensi dan keahlian lebih spesifik,” ujarnya usai konferensi pers realisasi investasi di kantornya, Selasa (5/5/2026).

Meski tidak lagi berada di posisi teratas, industri alas kaki tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar kedua. Hal ini karena ekosistem industri alasa kaki di Jateng sudah terbentuk kuat, dengan sejumlah perusahaan yang sebelumnya dalam tahap pembebasan lahan kini mulai masuk fase konstruksi dan pengadaan mesin produksi.

Dari sisi wilayah, Kota Semarang mencatatkan serapan tenaga kerja tertinggi dengan 15.650 orang, disusul Kabupaten Kendal dan Brebes. Tingginya angka di Kota Semarang didorong oleh sektor perdagangan dan jasa, termasuk perhotelan, restoran, dan ritel (horeka).

“Kami tidak melakukan diskriminasi sektor. Mau itu padat modal atau padat karya, semuanya kami dampingi secara maksimal. Yang paling penting, investasi ini memberikan multiplier effect bagi ekonomi Jawa Tengah, membuka lapangan kerja, dan pada akhirnya membantu menekan angka kemiskinan di daerah,” tegas Sakina.