
INDORAYA – Warung Sate Padang di Jalan Gajah Mada, Kota Semarang, mengalami penurunan omzet drastis setelah viral di media sosial terkait tudingan penggunaan ulang tusuk sate bekas pelanggan.
Video yang pertama kali beredar di media sosial Threads pada Jumat (22/5/2026) itu kemudian menyebar luas ke Instagram hingga TikTok. Dalam video tersebut muncul narasi bahwa tusuk sate bekas dicuci untuk dipakai kembali. Akibat viralnya video tersebut, penjualan warung sate itu disebut turun hingga 50 persen hanya dalam waktu sepekan.
Pedagang Sate Padang, Afan mengatakan, sebelum video viral, warungnya mampu menghabiskan sekitar 40 kilogram daging sapi per hari. Bahkan saat akhir pekan, penjualan bisa mencapai 50 kilogram.
“Kalau hari biasa sebelum ada kasus normalnya 40 kilogram per hari. Kalau weekend bisa 45 sampai 50 kilogram daging habis. Sekarang turun, paling hanya sekitar 20 kilogram,” ujar Afan saat ditemu dilapaknya Kamis (29/5/2026) malam.
Afan membantah tudingan penggunaan ulang tusuk sate bekas pelanggan. Menurutnya, video viral tersebut muncul akibat kesalahpahaman pengunjung yang melihat wadah penampungan tusuk sate di area belakang tempat pencucian piring.
Ia menegaskan tusuk sate bekas tidak pernah dicuci untuk digunakan kembali.
“Lidi bekas itu langsung dibuang atau dibakar. Tidak pernah dipakai lagi. Yang di video itu salah persepsi karena melihat ada air sabun di tempat penampungan,” katanya.
Menurutnya, air sabun yang terlihat di dalam wadah berasal dari sisa cucian tangan pekerja yang membersihkan piring. Sementara tusuk sate hanya dikumpulkan sementara agar tidak berceceran sebelum akhirnya dibuang ke tempat sampah atau dibakar.
“Karena sebelumnya pernah ditegur Dinas Kebersihan Kota Semarang karena lidi sate berceceran, akhirnya kami kumpulkan di satu wadah,” jelasnya.
Ia juga menyebut pria yang muncul dalam video viral tersebut diduga salah memahami penjelasan pekerja saat ditanya terkait tusuk sate bekas.
“Bapak yang ada di video itu pendengarannya memang agak kurang, mungkin salah nangkap penjelasan,” ungkapnya.
Tak hanya berdampak pada omzet, viralnya video itu juga memengaruhi psikologis para pekerja. Afan mengaku selama beberapa hari terakhir mereka kerap mendapat pertanyaan hingga cibiran dari masyarakat yang datang.
Meski begitu, pihak warung tetap berusaha menjelaskan kondisi sebenarnya kepada pelanggan. Bahkan pengunjung dipersilakan melihat langsung proses pembuangan tusuk sate di lokasi.
“Kalau kurang percaya silakan datang langsung lihat sendiri. Kami selalu pakai lidi baru,” tegasnya.
Salah satu pelanggan, Ridho, mengaku tetap memilih makan di warung tersebut meski sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Ia mengaku sudah menjadi pelanggan tetap selama empat tahun terakhir dan hampir datang setiap pekan.
“Saya hampir tiap minggu makan di sini, seminggu bisa dua sampai tiga kali,” kata Pria asal Sumatera tersebut.
Ridho menilai masyarakat sebaiknya tidak langsung percaya terhadap informasi viral tanpa melihat fakta di lapangan.
Menurutnya, tudingan penggunaan ulang tusuk sate juga tidak masuk akal dari sisi bisnis karena harga tusuk sate dinilai tidak sebanding dengan risiko kehilangan pelanggan.
“Enggak make sense kalau sampai pakai ulang lidi bekas. Selama saya sering di sini ya memang dibuang,” tandas Ridho.



