Dies Natalis ke-68, Undip Dinilai Berhasil Jadi Kampus Riset Berdampak bagi Masyarakat

Dies Natalis ke-68 Universitas Diponegoro Semarang

INDORAYA – Enam puluh delapan tahun perjalanan Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang menjadi tonggak transformasi perguruan tinggi negeri yang sejalan dengan program Diktisaintek Berdampak.

Sejak kepemimpinan Rektor Suharnomo, UNDIP menegaskan diri sebagai kampus riset yang tidak hanya berorientasi pada reputasi akademik di tingkat internasional, tetapi juga berkomitmen memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui slogan “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat”, UNDIP memaknai Tri Dharma Perguruan Tinggi secara konkret, bahwa ilmu pengetahuan dan inovasi harus memberi dampak langsung bagi masyarakat.

Dies Natalis ke-68 Universitas Diponegoro mendapat apresiasi luas atas kiprahnya sebagai kampus inovatif dan berdampak. Berbagai pihak menilai UNDIP berhasil memadukan riset, pengabdian, dan kolaborasi untuk kemaslahatan publik.

Momentum ini menjadi refleksi atas konsistensi UNDIP menghadirkan ilmu yang bermartabat dan bermanfaat. Semangat tersebut kini meneguhkan posisi UNDIP sebagai inspirasi bagi pendidikan tinggi di Indonesia.

Keberaadaan UNDIP, menurut testimoni dari sjeumlah tokoh, dinilai telah berhasil menjalankan misi sebagai agen pengembang ilmu pengetahuan sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengapresiasi konsistensi UNDIP yang selaras dengan semangat Dikti Saintek Berdampak.

“Riset UNDIP telah memberi kontribusi penting mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, energi, pangan, hingga transformasi digital,” katanya.

Menteri berharap UNDIP terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dan melahirkan generasi inovator berkarakter untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi dalam testimoninya menyebut UNDIP sebagai kebanggaan Jawa Tengah dan Indonesia.

Ia menilai inovasi desalinasi air laut dan hybrid seawall merupakan contoh konkret bagaimana ilmu pengetahuan hadir untuk menjawab persoalan masyarakat. Inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara menyebut perjalanan UNDIP sebagai cerminan komitmen dalam melahirkan inovasi bermakna bagi bangsa.

“Melalui tema Inovasi untuk Bangsa, When Innovation Meets Impact, UNDIP menunjukkan bahwa riset harus terhubung dengan kemaslahatan negeri,” ujarnya.

Dies Natalis ke-68 Universitas Diponegoro bukan sekadar perayaan usia, tetapi juga perayaan kontribusi, kolaborasi, dan kebermanfaatan. Dari Semarang, semangat UNDIP terus menyala untuk Indonesia yang bermartabat dan bermanfaat.

Ketua Ikatan Alumni UNDIP (IKA UNDIP), Abdul Kadir Karding, menyebut tema Dies Natalis tahun ini sebagai pengingat agar inovasi tidak berhenti di kampus.

“Karya akademik harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Alumni siap mendukung UNDIP dalam melahirkan generasi unggul, inovatif, dan berdampak,” tegasnya.

Bagi mahasiswa, Dies Natalis bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi. Ketua BEM UNDIP, Aufa Ataariq Auraki, menyebut kampus sebagai tempat penggemblengan insan akademis, pencipta, dan pengabdi.

“Harapannya, di umur ke-68, UNDIP bisa lebih bermanfaat bagi nusa dan bangsa agar masyarakat adil dan makmur dapat terwujud,” ujarnya penuh semangat.

Dari berbagai suara, pemerintah, legislatif, akademisi, alumni, hingga mahasiswa, tergambar satu benang merah: UNDIP telah menjadi simbol bagaimana inovasi dan riset memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Dalam usianya yang ke-68, UNDIP tidak hanya berdiri sebagai lembaga pendidikan tinggi, tetapi juga sebagai pusat solusi sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Melalui kepemimpinan Suharnomo dan seluruh sivitas akademika, UNDIP terus melaju membawa semangat “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat” dalam membangun masyarakat dan bangsa Indonesia.