INDORAYA – Buntut sengketa hukum antar pemegang saham PT Sinar Dunia, itu membuat ratusan buruh terlantar di depan pabrik buku tulis ini, Senin (18/9/2023) siang.
Keterlantaran mereka itu disebabkan karena pagar utama pabrik yang berlokasi di kawasan Lingkungan Industri Kecil (LIK) Kaligawe, Kota Semarang tersebut digembok dan dipasangi spanduk yang bertuliskan “Pengumuman, untuk seluruh karyawan Gang X pindah tempat kerja ke Gang II Produksi, Gang II Tenis.l.”
Awalnya mereka menunggu di depan sambil duduk-duduk menunggu pabrik kembali dibuka, namun setelah menunggu cukup lama.
Kericuhan yang seharusnya bisa dengan mudah dicegah, namun akhirnya tidak terkendalikan karena para pekerja menilai aksi penutupan sepihak dapat menghambat produksi dan pendapatan.
Dalam kericuhan tersebut, setidaknya ada 5 orang yang menjadi sasaran amukan 400-an buruh. Beruntungnya, tidak ada pemukulan atau
pengeroyokan karena buruh masih terkontrol emosinya.
Para buruh menyasar 5 orang itu diduga kelimanya menjadi sebagai biang kerok kericuhan tersebut. Kelima orang tersebut juga diduga menjadi orang suruhan salah satu pemegang saham yang ingin mengambil alih aset milik PT Sinar dunia.
Atas konflik pemegang saham yang berbuntut ke para pekerja, Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) langsung turun tangan.
Hal itu dilakukan karena Disnaker melindungi ratusan buruh yang akan terancam masa depannya akibat penutupan gerbang sepihak tersebut.
Akan tetapi, kedatangan dinas ke lapangan itu bukan sebagai alat pengesahan sengketa. Hanya saja, Disnaker Kota Semarang sekadar menjadi penengah agar para pekerja bisa bekerja lagi.
“Silahkan kalau mau dibuka, dibuka aja. Saya tidak ingin menjadi saksi atau alat pengesahan atas sengketa atau konflik di PT Sinar Dunia. Saya sebagai pemerintah adalah ingin menengahi agar buruh di pabrik ini bekerja kembali,” ungkap Kepala Disnaker Kota Semarang, Sutrisno yang sempat mencoba menenangkan para buruh.
Sutrisno berprinsip bahwa kedatangannya itu sekadar menyelamatkan karyawan dan tidak mencederai hak buruh atas konflik antar pemegang saham PT Sinar Dunia.
“Saya prinsipnya ingin menyelamatkan karyawan dan tidak dicederai haknya karena konflik ini,” tegas Sutrisno.
Ia juga sempat mengajak perwakilan buruh dan manajemen untuk membicarakan nasib buruh yang belum jelas akibat konflik ini. Namun manajemen dan buruh menolak karena ingin memastikan gerbang dapat dibuka kembali.
“Tadinya saya mengajak rapat pihak manajemen untuk rapat di tempat netral, tapi mereka tidak mau. Tapi saya akan datang lagi kalau kantor (PT Sinar Dunia) sudah dibuka,” katanya.
Sementara itu, Kepala Personalia PT Sinar Dunia, Diah Fitriani berharap agar para pemegang saham berdamai dan tidak memunculkan konflik yang merugikan karyawan.
“Ya keinginannya semoga terjadi perdamaian antar pemegang saham yang berkonflik agar karyawan dan buruh bisa bekerja dengan nyaman. Jangan sampai ada salah satu menutup pabrik secara sepihak karena jelas melanggar hak-hak karyawan yang mencari nafkah di sini,” ucap Diah.
Disinggung soal Disnaker turun tangan, Diah mengakui bahwa para buruh melalui serikat pekerja meminta perlindungan ke Disnaker atas penutupan gembok secara sepihak.
“Kami melalui serikat pekerja telah meminta perlindungan ke Dinas Ketenagakerjaan agar kami tetap mendapatkan pekerjaan,” beber dia.
Dalam kesempatan ini, Nur Rodi selaku Perwakilan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Pimpinan Unit Kerja (PUK) PT Sinar Dunia, menambahkan bahwa dirinya bersama rekan-rekan pekerja di PT Sinar Dunia itu tak memperdulikan konflik antar pemegang saham.
Melainkan, ia bersama rekan-rekannya meminta agar pintu gerbang pabrik bisa dibuka kembali, jika itu tidak dilakukan dipastikan nasibnya tidak jelas.
“Intinya pekerja itu maunya bekerja nggak peduli adanya konfilk antara pemegang saham. Gara-gara konflik ini kan nasib kami belum pasti jadinya,” ungkap Nur Rodi.
Nur Rodi menyoroti tindakan sepihak salah satu pemegang saham yang tiba-tiba menggembok gerbang dengan gembok yang bukan milik perusahaan. Hal tersebut memancing amarah buruh dan manajemen.
“Seharusnya nggak pakai cara-cara seperti ini, soalnya kami nggak suka kerusuhan. Kami inginnya tetap kondusif dan nyaman dalam bekerja,” pungkasnya.


