INDORAYA – Masifnya pengambilan air tanah untuk kebutuhan industri di kawasan pesisir Kota Semarang dan Kabupaten Demak turut memicu persoalan banjir rob yang sering melanda di dua wilayah di pesisir Pantura Jawa Tengah (Jateng) tersebut.
Pemprov Jateng tidak ingin aktivitas produksi di Kawasan Industri Kendal (KIK) dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) juga turut mempengaruhi penurunan muka tanah yang memicu persoalan rob.
Oleh karena itu, dua kawasan industri yang baru berkembang di Jateng tersebut didorong tidak menggunakan air bawah tanah.
Pemprov Jateng memastikan bahwa Kawasan Industri Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang dalam melakukan aktivitas produksinya menggunakan air permukaan. Hal ini menjadi salah satu upaya mencegah penurunan muka tanah.
“Ada sumber air permukaan masuk dari sungai dan air hujan, kemudian di-recycle untuk kebutuhan. Kalau KIK (Kawasan Industri Kendal) sudah mulai jalan sebenarnya,” ujar Plt Kepala Dinas ESDM Jateng, Boedyo Dharmawan kepada Indoraya.news, Selasa (11/7/2023).
Sementara Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) nantinya juga akan menggunakan air permukaan jika infrastrukturnya sudah siap. Sementara ini masih menggunakan air bawah tanah guna pembangunan infrastruktur.
“Kalau KITB itu memang diminta menggunakan air permukaan dari sungai, cuma infrastrukturnya belum. Kalau KIK sudah menggunakan air permukaan, memang tumbuhnya duluan KIK, kalau KITB belum jalan,” kata Boedya Dharmawan.
“Sementara kebutuhan infrastruktur lain untuk jalan, bangunan, investor buat pabrik ini yang sebenarnya menjadi masalah. Akhirnya diberi kebijakan menggunakan air tanah sampai air permukaan siap. Jadi biar gak putus pembangunan konstruksinya,” imbuhnya.
Ketika pembangunan sudah selesai dan seluruh infrastruktur sudah siap, termasuk penunjang sumber daya air permukaan, pengambilan air tanah akan dihentikan. Rencananya, KITB akan memanfaatkan Sungai Kaliboyo guna keperluan air baku untuk menunjang aktivitas industri.
“Arahnya juga air permukaan, spot air permukaan dari Kaliboyo yang akan dibuat infrastruktur untuk penyediaan air kebutuhan, cuma belum selesai belum jadi,” ungkap Boedya.
Sebelumnya Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno mengatakan, pengambilan air bawah tanah yang dilakukan perusahaan di kawasan pesisir Pantura Jateng turut memperparah kondisi rob. Khususnya industri di pesisir Kota Semarang dan Kabupaten Demak.
Menangani persoalan ini, pihaknya mendorong pelaku industri di kawasan pesisir untuk mengganti air bawah tanah dengan air baku yang berasal dari sumber air permukaan. Menurutnya, ini merupakan solusi jangka panjang persoalan banjir rob.
Selain itu, Pemprov Jateng juga memastikan bahwa dua kawasan industri baru, yaitu Kawasan Industri Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang nantinya menggunakan air permukaan.
“Untuk kawasan-kawasan industri yang baru sudah dipastikan tidak menggunakan air tanah. Kendal (KIK) dan Batang (KITB), air bakunya dari air baku permukaan,” ucap Sumarno, Rabu (5/7/2023).
Sementara di Demak dan Semarang, saat ini penyediaan air baku tengah diupayakan bersama Kementerian PUPR. Yakni membangun bendungan Jragung di Kabupaten Semarang serta optimalisasi Waduk Jatibarang dan kolam retensi di Kota Semarang
“Tapi kita memikirkan bagaimana ini disubtitusi dengan air baku. Maka kami koordinasi dengan PUPR untuk pembuatan bendungan untuk penyediaan air baku. Waduk Jatibarang juga, kolam retensi di Semarang juga. Kalau sudah, baru kita subtitusi dengan air baku,” ujar Sumarno.



