INDORAYA – Tiga Rumah Tak Layak Huni (RTLH) milik warga kurang mampu di Kecamatan Genuk Kota Semarang berhasil direnovasi.
Penyerahan hasil renovasi RTLH secara simbolis dilakukan oleh Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang Ali di rumah Krisyanto warga Banjardowo RT 07 RW 02, Selasa (23/8/2022).
Selain Krisyanto, dua orang lainnya yaitu Nyami warga Gebangsari RT 01 RW 02 dan Nur Taufiq warga Genuksari RT 07 RW 03. Rumah masing-masing telah selesai direnovasi.
Proses renovasi RTLH tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Semarang dan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka (Kwarcab) Kota Semarang.
Kepala Disperkim Kota Semarang Ali mengatakan bahwa perbaikan RTLH tersebut menghabiskan biaya sebesar Rp 23,6 juta.
Tidak hanya bersama Kwarcab Kota Semarang, pembangunan ini dapat terealisasi karena bantuan gotong royong yang dilakukan warga setempat.
Ali memambahkan, kolaborasi dan gotong royong seperti inilah yang menjadi salah satu upaya penanggulangan kemiskinan di Kota Semarang.
“Ini merupakan representasi dari konsep bergerak bersama pembangunan kota Semarang, salah satunya lewat rehabilitasi RTLH. Bahwa pembangunan akan lebih cepat kalau dikerjakan gotong royong,” ujarnya.
Ali menambahkan, sejak tahun 2014 hingga 2021, Disperkim sudah berhasil merenovasi sebanyak 7.000 unit RTLH di Kota Semarang.
Ia berharap kolaborasi ini akan terus dijalankan supaya memperepat proses renovasi RTLH yang sebenarnya tahun ini ditargetkan mencapai 13.000 unit.
“Dari 13 ribu unit kita masih menyisakan 6 ribu RTLH (yang belum direnovasi). Karena kemarin dua tahun sempat ada pandemi jadi belum bisa dilakukan,” lanjut Ali.
Ketua Kwartir Cabang Adi Tri Hananto mengatakan bahwa proses renovasi tiga RTLH tersebut memakan waktu sekitar 10 hari.
Lebih lanjut, pihaknya akan terus mendukung program Pemkot Semarang, salah satunya yaitu bedah rumah atau renovasi RTLH.
“Kami akan membantu untuk merealisasikan pembangunan kota Semarang. Kami harap ada partisipasi masyarakat dan dari pramuka untuk menjadikan rumah lebih bagus lagi,” kata Adi.
Sementara itu, Krisyanto (38) merasa senang atas bantuan yang ia dapatkan. Ia mengaku renovasi rumah tersebut sangat membantun keluarganya.
Pasalnya sebelumnya rumahnya seringkali kebanjiran saat musim penghujan. Hal ini karena ketinggian rumahnya masih kalah tinggi dibanding jalan setapak.
“Dulunya memang parah, kalau hujan selalu kebanjiran. Anak dan istri harus pindah ke rumah saudara. Pastinya seneng dapat bantuan ini, alhamdulillah,” ungkap warga Banjardowo itu.



