INDORAYA – Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi hortikultura yang sangat besar. Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi sejumlah komoditas unggulan pada 2025 mencapai angka signifikan, di antaranya bawang merah lebih dari 5,8 juta kuintal, kentang sekitar 3,5 juta kuintal, cabai rawit 2,6 juta kuintal, kubis 2 juta kuintal dan wortel 1,3 juta kuintal.
Wilayah dataran tinggi seperti Tawangmangu di Kabupaten Karanganyar, Ngargoyoso, serta lereng Merapi-Merbabu di Boyolali sudah lama dikenal sebagai sentra produksi sayuran dan buah-buahan. Kondisi geografis dan iklim yang mendukung membuat berbagai komoditas hortikultura dapat tumbuh dengan baik.
Namun, potensi besar tersebut masih belum tergarap secara maksimal. Banyak hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif, sehingga nilai tambah yang diterima petani belum optimal.
Tantangan utama tidak hanya terletak pada produksi, tetapi juga pada aspek kualitas, standarisasi, rantai pasok dan akses pasar. Tanpa perbaikan di sisi hilir, produk hortikultura Jawa Tengah sulit bersaing di pasar yang lebih luas.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, menyoroti kondisi ini. Menurutnya, hortikultura seharusnya bisa menjadi salah satu penggerak ekonomi desa sekaligus membuka peluang hingga pasar global.
“Potensinya besar. Tapi belum tergarap maksimal. Kalau dikelola lebih baik, hortikultura bisa jadi penggerak ekonomi desa dan bahkan menembus pasar global,” ungkap Heri.
Ia juga menekankan pentingnya pemberdayaan petani melalui pendampingan teknologi, penguatan kelembagaan, serta akses terhadap informasi pasar. Petani perlu didukung agar mampu meningkatkan mutu hasil panen sesuai standar yang dibutuhkan pasar modern maupun ekspor.

Produk hortikultura organik, misalnya, mulai dilirik segmen pasar premium. Beberapa kelompok tani di Jawa Tengah sudah mulai menyasar supermarket dan peluang ekspor, meskipun skalanya masih terbatas.
“Kalau hanya berhenti di pasar lokal, nilainya terbatas. Tapi kalau kualitasnya dijaga dan akses pasarnya dibuka, peluang sampai ke pasar global itu nyata,” katanya.
Heri menilai kolaborasi antara pemerintah, petani dan pelaku usaha menjadi kunci. Pemerintah daerah perlu hadir melalui kebijakan yang mendukung peningkatan mutu, fasilitasi sertifikasi, serta promosi produk unggulan daerah.
“Dengan pengelolaan yang lebih serius, sektor hortikultura akan mampu memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi desa. Petani tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memperoleh nilai tambah yang lebih baik,” ujarnya.
Selain manfaat ekonomi, lanjut Heri, pengembangan hortikultura juga berpotensi memperkuat identitas Jawa Tengah sebagai daerah penghasil produk berkualitas. Komoditas lokal yang dikelola dengan baik dapat menjadi kebanggaan sekaligus daya saing daerah.
Heri mengatakan, perhatian terhadap sektor ini harus terus ditingkatkan. Potensi yang sudah ada tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa upaya optimalisasi yang terarah dan berkelanjutan.
“Ini aset yang sudah ada. Tinggal bagaimana kita kelola agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani dan bisa dikenal lebih luas,” pungkasnya. [ADV]



