Investasi PLTS Gajah Mungkur Capai Rp1,6 Triliun, Produksinya Setara 37 Persen Kebutuhan Listrik Wonogiri

Gubernur Jawa Tengah saat Groundbreaking PLTS Terapung Gajah Mungkur di Wonogiri yang dilakukan serentak dengan peluncuran Program PLTS 100 GWp yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dari Bali, Selasa (25/8/2026).

INDORAYA – Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Gajah Mungkur mulai dibangun di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp1,6 triliun.

Saat beroperasi, pembangkit listrik tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 218 GWh listrik per tahun. Produksi tersebut setara sekitar 37 persen kebutuhan listrik Kabupaten Wonogiri dalam satu tahun.

Groundbreaking PLTS Terapung Gajah Mungkur dilakukan serentak dengan peluncuran Program PLTS 100 GWp yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto dari Bali, Selasa (25/8/2026).

Sebanyak 14 PLTS dengan total kapasitas mencapai 5,2 gigawatt peak (GWp) diluncurkan dalam program tersebut. Salah satunya adalah PLTS Terapung Gajah Mungkur dengan kapasitas 134 megawatt peak (MWp).

Di Wonogiri, kegiatan groundbreaking dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama jajaran pemerintah daerah, PT PLN, pengelola sumber daya air dan pengembang proyek.

“Hari ini kita melakukan groundbreaking terkait dengan PLTS. Di Jawa Tengah ini adalah salah satu PLTS yang terbesar di Wonogiri, dengan kapasitas 134 megawatt peak,” kata Luthfi.

Luthfi mengatakan, PLTS Gajah Mungkur ditargetkan dapat beroperasi pada akhir 2027. Menurutnya, pengembangan energi baru terbarukan menjadi salah satu prioritas Jawa Tengah untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

Sementara itu, General Manager PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah Bramantyo Anggun Pambudi menjelaskan, listrik yang dihasilkan PLTS Gajah Mungkur nantinya disalurkan melalui jaringan 150 kilovolt menuju Gardu Induk Nguntoronadi yang berjarak sekitar 11,7 kilometer.

Setelah masuk jaringan interkoneksi Jawa-Madura-Bali, listrik tersebut tidak hanya digunakan di kawasan sekitar Waduk Gajah Mungkur, tetapi dapat disalurkan ke berbagai daerah yang terhubung dalam jaringan interkoneksi tersebut.

“Ketika listrik tersebut sudah masuk ke jaringan interkoneksi, maka listrik tersebut tidak khusus untuk berada di sekitaran daerah tersebut. Itu juga bisa disalurkan ke semua daerah di jaringan yang tersambung dengan interkoneksi,” kata Bramantyo.

Sementara itu, Direktur Operasi Pembangkit Gas PT PLN Indonesia Power Daniel Eliawardhana mengatakan, persiapan dan aspek teknis proyek saat ini terus dilakukan. PLTS Gajah Mungkur ditargetkan dapat beroperasi sesuai jadwal pada akhir 2027.

“Secara target waktu sesuai yang disampaikan Pak Gubernur tadi, kita akhir tahun 2027 ini sudah bisa beroperasi setara 134 megawatt peak,” ujarnya.

Pengembangan PLTS di Jawa Tengah juga direncanakan di Waduk Kedung Ombo dengan kapasitas sekitar 100 MWac. Selain itu, proyek PLTS dengan kapasitas sekitar 7,4 MW juga disiapkan di Karimunjawa.

Pembangunan PLTS Gajah Mungkur merupakan bagian dari Program PLTS 100 GWp yang dikembangkan pemerintah secara nasional untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian energi.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah serius mengejar pembangunan pembangkit listrik tenaga surya tersebut. Ia menargetkan kapasitas PLTS 100 GWp dapat dibangun dalam tiga tahun sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian energi Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut, Program PLTS 100 GWp secara nasional diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$73 miliar atau lebih dari Rp1.140 triliun.

Program tersebut diproyeksikan menciptakan sekitar 5,52 juta lapangan kerja sekaligus menghasilkan efisiensi subsidi energi sekitar Rp73,9 triliun per tahun.

Khusus PLTS Terapung Gajah Mungkur, area panel direncanakan menempati kurang dari 5 persen dari luas Waduk Gajah Mungkur yang mencapai sekitar 5.600 hektare. Tata letaknya disiapkan dengan mempertimbangkan perubahan muka air waduk serta tetap mempertahankan jalur aktivitas masyarakat dan nelayan.

Pada tahap konstruksi, proyek ini juga diperkirakan membutuhkan sekitar 150 hingga 250 tenaga pendukung yang dapat direkrut dari masyarakat lokal melalui kontraktor. [ADV]