INDORAYA – Realisasi investasi Jawa Tengah pada triwulan I 2026 mencapai Rp23,02 triliun. Investasi tersebut berasal dari 24.957 proyek dan mampu menyerap sekitar 92 ribu tenaga kerja.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, masuknya investasi dalam jumlah besar menunjukkan Jawa Tengah masih memiliki daya tarik ekonomi sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan.
“Ini tentu menjadi kabar baik bagi Jawa Tengah. Investasi yang masuk menunjukkan kepercayaan dunia usaha sekaligus membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja masyarakat,” kata Heri.
Namun, Heri mengingatkan capaian investasi tidak semestinya hanya dilihat dari besarnya nilai modal yang masuk dan jumlah tenaga kerja yang terserap.
Menurutnya, perhatian berikutnya perlu diarahkan pada kualitas pekerjaan dan sejauh mana masyarakat Jawa Tengah dapat menikmati manfaat investasi secara berkelanjutan.
“Setelah investasi masuk, yang perlu kita pastikan adalah manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Jangan hanya melihat berapa banyak tenaga kerja yang terserap, tetapi juga bagaimana kualitas pekerjaan dan peluang mereka untuk berkembang,” ujarnya.
Catatan tersebut menjadi relevan karena struktur investasi di Jawa Tengah mulai mengalami perubahan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat sektor padat modal seperti mesin, elektronik, instrumen kedokteran dan kelistrikan mulai menggeser dominasi sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki.
Menurut Heri, perubahan struktur industri tersebut harus diikuti dengan kesiapan sumber daya manusia.

Ia mengatakan, pendidikan vokasi, pelatihan kerja dan keterhubungan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri menjadi penting agar tenaga kerja lokal tidak hanya menjadi penonton ketika investasi baru masuk.
“Industri terus berubah, kebutuhan kompetensinya juga berubah. Karena itu, peningkatan kualitas SDM harus berjalan beriringan dengan masuknya investasi,” kata Heri.
Dari sisi wilayah, Kota Semarang menjadi daerah dengan penyerapan tenaga kerja investasi terbesar pada triwulan I 2026, yakni 15.650 pekerja. Berikutnya Kabupaten Kendal 9.009 pekerja, Brebes 8.915 pekerja, Jepara 6.897 pekerja dan Klaten 6.886 pekerja.
Heri menilai, persebaran investasi dan lapangan kerja juga perlu menjadi perhatian. Investasi yang tumbuh di berbagai daerah diharapkan tidak hanya meningkatkan aktivitas industri, tetapi turut menggerakkan usaha masyarakat dan perekonomian di sekitar kawasan investasi.
“Yang kita harapkan tentu bukan hanya investasinya tumbuh, tetapi masyarakat di sekitar juga ikut tumbuh. Ada lapangan kerja, ada UMKM yang bergerak dan ada peningkatan kesejahteraan,” ujarnya.
Sementara itu, sepanjang 2025, realisasi investasi Jawa Tengah tercatat sekitar Rp110 triliun dengan penyerapan lebih dari 418 ribu tenaga kerja. Sementara capaian triwulan I 2026 sebesar Rp23,02 triliun telah mencapai sekitar 23 persen dari target investasi Jawa Tengah tahun ini.
Heri menilai capaian tersebut layak dipertahankan sekaligus dikawal agar pertumbuhan investasi memberikan dampak yang semakin luas.
“Investasi harus kita sambut dan kita jaga iklimnya. Tetapi pada saat yang sama, manfaatnya juga harus semakin besar bagi masyarakat Jawa Tengah,” pungkas Heri. [ADV]


