Jelang HUT RI, Pasutri Gen Z di Semarang Kebanjiran Pesanan Bendera hingga 1.000 Pcs Sehari

Pasangan suami istri Generasi Z (Gen Z), Fahmi Babgae dan Regita Sekar Adisti saat menceritakan perjalanan usaha bendera Merah Putih, Selasa (4/8/2026). (Foto: Dickri Tifani Badi/INDORAYA)

INDORAYA – Permintaan bendera Merah Putih dan atribut dekorasi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) melonjak menjelang 17 Agustus 2026. Kondisi itu membuat pasangan suami istri Generasi Z (Gen Z), Fahmi Babgae dan Regita Sekar Adisti, harus menyuplai sekitar 1.000 produk setiap hari untuk memenuhi pesanan dari pengurus RT, perusahaan swasta, hingga instansi pemerintah di Kota Semarang.

Dari rumah mereka di Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Selatan, Fahmi dan Regita setiap hari melayani pesanan bendera Merah Putih, umbul-umbul, hingga berbagai ornamen dekorasi kampung. Mayoritas permintaan kini berasal dari pembelian kolektif yang dikoordinasikan pengurus RT dan RW.

“Barang yang kami kirim bukan hanya bendera rumah, tetapi juga umbul-umbul dan berbagai ornamen dekorasi kampung. Totalnya bisa mencapai sekitar 1.000 pcs per hari yang kami suplai ke RT-RT,” ujar Regita saat ditemui Indoraya.News, Selasa (4/8/2026).

Permintaan tidak hanya datang dari lingkungan permukiman, tetapi juga dari perkantoran, pusat perbelanjaan, hingga mal di Kota Semarang. Menurut Regita, kebutuhan dalam jumlah besar membuat mereka harus rutin berkoordinasi dengan pemasok agar stok tetap tersedia.

“Kalau ada satu kantor mengadakan acara, kebutuhannya bisa langsung dalam jumlah besar. Karena itu kami harus selalu siap dan rutin berkomunikasi dengan para pemasok agar stok tidak sampai habis,” katanya.

Regita menyebut, lonjakan pesanan tahun ini meningkat sekitar 100 persen dibandingkan hari-hari biasa. Tantangan terbesar bukan hanya memenuhi permintaan, tetapi juga memastikan seluruh pesanan dapat dikirim tepat waktu.

“Lonjakannya 100 persen. Kebanyakan pelanggan ingin barangnya segera dikirim, jadi kami harus benar-benar cepat dalam mengelola pesanan,” ujarnya.

Fahmi mengatakan, lonjakan permintaan mulai terasa pada akhir Juli, setelah terbit surat edaran yang mengimbau masyarakat memasang bendera Merah Putih dan umbul-umbul mulai 1 Agustus.

“Menjelang 1 Agustus kemarin pesanan sampai ribuan. Banyak yang mendadak membeli karena sudah ada surat edaran dan rapat RT maupun RW, sehingga semuanya berlomba-lomba memesan,” kata Fahmi.

Regita menilai, program Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) sebesar Rp25 juta per tahun bagi setiap RT dari Pemerintah Kota Semarang juga ikut mendorong pembelian atribut HUT RI secara kolektif.

“Pak RT sekarang lebih aktif mengoordinasikan. Mereka mengajak warga menyepakati model bendera dan hiasan yang akan dipasang bersama, sehingga pembeliannya dilakukan secara kolektif,” ujarnya.

Melihat peluang tersebut, pasangan pengusaha muda itu memperluas pemasaran dengan mendatangi pengurus RT, menyebarkan brosur dari pintu ke pintu, hingga mengikuti musyawarah kampung. Mereka juga memanfaatkan platform SIPLah dan LPSE untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

“Kita mulai mencari segmentasi lainnya. Salah satunya baru tahu SIPLah, kemudian juga LPSE,” sambung Regita.

Usaha yang dijalankan Fahmi bermula sejak masih duduk di bangku SMA pada 2016. Saat itu ia bekerja di usaha pembuatan dan penjualan bendera milik orang lain sebelum akhirnya merintis bisnis sendiri.

“Kenapa berjualan? Butuh uang, ya. Karena realistis, saya butuh uang, akhirnya ikut orang. Ikut orang Garut waktu itu. Jadi kami ngelapak di pinggir-pinggir jalan. Dulu saya pernah seperti itu, Mas,” ujar Fahmi.

Setelah menikah dengan Regita, Fahmi memutuskan mengembangkan usahanya di Semarang. Pada tahun pertama, penjualan belum sesuai harapan karena usahanya belum banyak dikenal masyarakat.

“Alhamdulillah dapat istri orang Semarang. Nyobalah kira-kira usahaku nih bisa nggak di Semarang maju kayak di Madiun gitu. Ternyata setelah tak coba tahun pertama itu memang penjualannya minim banget. Orang juga belum tahu kalau ada yang jual bendera dengan harga murah. Kadang malah dikira penipuan, padahal kami jual sesuai harga,” katanya.

Meski puncak permintaan biasanya terjadi menjelang Hari Kemerdekaan, Regita memperkirakan pesanan masih akan terus meningkat hingga mendekati 17 Agustus.

“Kalau yang paling diandalkan tetap momen 17 Agustus. Ini memang panen raya kami.”

Ia menambahkan, banyak RT dan RW baru menentukan kebutuhan dekorasi setelah menggelar musyawarah bersama warga.

“Semakin dekat tanggal 17 Agustus, biasanya permintaan terus naik karena RT dan RW harus berkoordinasi dulu dengan warganya sebelum memutuskan jumlah yang akan dibeli,” pungkasnya.