40 Persen Lulusan Terjun Dunia Kerja, Jateng Siapkan Sertifikasi Kompetensi Siswa SMA Tak Kuliah

Date:

INDORAYA – Sekitar 30 hingga 40 persen lulusan SMA di Jawa Tengah setiap tahunnya langsung terjun ke dunia kerja tanpa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Jateng mulai menyiapkan program sertifikasi kompetensi bagi siswa SMA.

Langkah ini menjadi upaya pemerintah daerah untuk membekali lulusan SMA dengan keterampilan praktis agar mampu bersaing di dunia kerja, layaknya lulusan SMK yang selama ini lebih identik dengan sertifikasi profesi.

Kepala Bidang Pembinaan SMA Disdik Jateng, Kusno, mengungkapkan bahwa fenomena lulusan SMA yang tidak melanjutkan kuliah menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mereka yang tidak memiliki keahlian khusus.

Hal itu dikatakannya usai kegiatan diskusi “DIMENSI” (Diskusi Seputar Kompetensi) yang digelar di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Semarang, Sabtu (11/4/2026).

“Sekitar 60 sampai 70 persen lulusan SMA memang melanjutkan kuliah, tapi ada sisa 30 persen lebih yang terpaksa bekerja karena faktor ekonomi atau kesempatan. Tanpa bekal keterampilan khusus, lulusan SMA akan kesulitan bersaing dengan lulusan SMK yang memang didesain untuk bekerja,” katanya.

Sebagai solusi, Disdik Jateng berencana menggandeng berbagai pihak, mulai dari perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR) hingga vendor pelatihan, untuk memberikan pelatihan keterampilan langsung di sekolah.

Pelatihan tersebut nantinya akan diakhiri dengan uji kompetensi resmi sehingga siswa mendapatkan sertifikat yang diakui sebagai bukti kemampuan kerja.

Ketua Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Syamsi Hari, menegaskan bahwa sertifikasi profesi menjadi instrumen penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja, terutama di tengah perkembangan teknologi yang pesat.

“Pendidikan atau pelatihan ditambah sertifikasi akan menjadi nilai tambah yang luar biasa. Saat ini BNSP memiliki 2.458 Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di berbagai sektor. Kami melihat profesi terus bertambah seiring perkembangan teknologi IT dan pariwisata,” katanya.

“Melalui sertifikat yang berlaku selama tiga tahun ini, kita memastikan kualitas SDM kita tetap terstandarisasi dan diakui oleh negara maupun industri,” imbuh Syamsi Hari.

Dengan adanya program ini, diharapkan lulusan SMA yang tidak melanjutkan pendidikan tetap memiliki bekal kompetensi yang memadai untuk memasuki dunia kerja dan meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan yang layak.

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Berawal dari Konten Edukasi Kecantikan, Dua Dokter di Semarang Hadapi Kasus Hukum

Konten edukasi mengenai kecantikan dan perawatan kulit yang dibuat dua selebgram asal Kota Semarang, dokter Mufida Rizqiani Husna dan Ari Kurniawan alias Ari PM, berujung pada persoalan hukum. Keduanya kini terseret kasus dugaan pencemaran nama baik dan telah ditetapkan sebagai tersangka.

Hampir 80 Persen Mata Air Muria Kering, Pemprov Jateng Siapkan Rorak sebagai Solusi Cepat

Hampir 80 persen dari 116 titik mata air di kawasan Gunung Muria dalam kondisi kering atau mati. Untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan itu sekaligus menekan ancaman banjir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menyiapkan pembangunan rorak atau lubang resapan air di kawasan hutan.

Progres Baru 46 Persen, Gus Yasin Minta Talud Colo Kudus Rampung Sebelum 15 Desember

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen meminta kontraktor menyelesaikan pembangunan talud di ruas Kudus-Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, paling lambat 15 Desember 2026.

Buruh Jateng Desak UMP 2027 Sesuai KHL, Minta Upah Sektoral Diperluas

Aliansi Buruh Jawa Tengah (ABJaT) mendesak Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menetapkan upah minimum provinsi (UMP) dan upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2027 sesuai kebutuhan hidup layak (KHL).