Tren Keterwakilan Perempuan di DPRD Jateng Terus Menurun, Kini Tinggal 19 Persen

Ketua DPRD Jateng, Sumanto saat menghadiri pelantikan Kaukus Perempuan Parlemen di Kantor DPRD Jateng, Rabu (16/9/2026). (Foto : Lu'luil Maknun).

INDORAYA– Trend keterwakilan perempuan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Tengah (Jateng) terus menurun dalam tiga kali pemilu. Kini, persentase keterwakilan tersebut hanya di angka 19 persen dari yang ditargetkan minimal 30 persen.

Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto menyebutkan dari 120 kursi DPRD Jateng, saat ini hanya 23 yang ditempati anggota legislatif perempuan.

Sumarno melanjutkan, tren penurunan tersebut terlihat sejak Pemilu 2014. Saat itu, keterwakilan perempuan di DPRD Jateng mencapai 24 persen.

Persentase tersebut kemudian turun menjadi 23 persen pada Pemilu 2019. Penurunan kembali terjadi pada Pemilu 2024, ketika keterwakilan perempuan berada di angka 19 persen.

“Trennya ini menurun, tiga kali pemilu. Kita berharap kuota 30 persen itu, walaupun menjadi saingan laki-laki, ya, tapi harus minimal juga dipertahankan,” kata Sumanto saat menghadiri pelantikan Kaukus Perempuan Parlemen di Kantor DPRD Jawa Tengah, Rabu (16/9/2026).

Sumanto mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab turunnya jumlah perempuan yang berhasil masuk ke DPRD Jateng. Karena itu, ia berharap keberadaan Kaukus Perempuan Parlemen dapat menjadi ruang untuk membahas sekaligus mengevaluasi persoalan tersebut.

“Kami berharap ini menjadi bagian dari teman-teman Kaukus Perempuan yang sudah terbentuk ini untuk bisa evaluasi sehingga biar trennya itu ya minimal 30 persen itu bisa lanjut,” ujarnya.

Perempuan Pimpin Tiga Komisi

Meski jumlah anggota legislatif perempuan masih 23 orang, Sumanto menyebut perempuan memiliki posisi pimpinan di sejumlah alat kelengkapan DPRD Jawa Tengah.

Dari lima komisi yang ada di DPRD Jateng, tiga di antaranya saat ini dipimpin perempuan. Mereka yakni Ketua Komisi B Sri Hartini, Ketua Komisi D Nur Saadah, serta Ketua Komisi E Messy Widiastuti.

Menurut Sumanto, kondisi tersebut menunjukkan perempuan tetap memiliki ruang untuk mengambil peran strategis dalam lembaga legislatif. Namun, ia berharap keterwakilan perempuan secara keseluruhan dapat meningkat pada pemilu mendatang.

Salah satu hal yang dinilai perlu diperkuat adalah kapasitas calon anggota legislatif perempuan. Pengetahuan mengenai proses politik dan strategi memperoleh dukungan pemilih dinilai menjadi bagian yang penting untuk dipersiapkan.

“Kita berharap otomatis meningkatkan pengetahuan bagi caleg-caleg perempuan. Memberikan pendidikan bagaimana bisa meraih suara yang lebih besar,” ujarnya.

Sumanto menilai keterlibatan perempuan di parlemen penting karena perempuan dapat memberikan kontribusi dalam pemikiran, pembangunan, maupun inovasi daerah.

Peningkatan jumlah perempuan di parlemen juga diharapkan dapat memperluas perspektif yang hadir dalam pembahasan kebijakan daerah. Evaluasi terhadap tren keterwakilan serta penguatan kapasitas calon legislatif perempuan pun dinilai perlu dilakukan agar keterwakilan perempuan di DPRD Jawa Tengah tidak terus menurun.