Ramai Percobaan Penculikan Anak di Semarang, Mbak Tunjung Minta Pengawasan dan Kewaspadaan Lebih Ditingkatkan

Aktivis perempuan dan anak sekaligus Wakil Sekretaris DPD Gerindra Jateng Dyah Tunjung Pudyawati saat mengunjungi ibu-ibu dan seorang anak di salah satu wilayah di Kota Semarang.

INDORAYA – Percobaan penculikan anak sempat terjadi di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang beberapa hari lalu. Peristiwa tersebut hingga saat ini menjadi topik yang ramai diperbincangkan warga Kota Semarang.

Sebelumnya bocah perempuan kelas 5 SD di Pedurungan nyaris menjadi korban penculikan. Ia dibujuk rayu oleh dua orang dewasa tak dikenal dengan iming-iming permen. Beruntung, warga setempat berhasil menggagalkan aksi itu.

Sehingga, anak perempuan berusia 11 tahun yang beralamat di Jalan Karanglo, Kelurahan Gemah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang tersebut aman dari pelaku penculikan.

Kasus percobaan penculikan beberapa waktu lalu itu pun turut menyita perhatian dari berbagai pihak. Tidak terkecuali Dyah Tunjung Pudyawati, seorang aktivis perempuan dan anak sekaligus Wakil Sekretaris DPD Partai Gerindra Provinsi Jawa Tengah.

Perempuan yang akrab disapa Mbak Tunjung Tunjung itu mengatakan, adanya percobaan penculikan anak di Kota Semarang harus menjadi perhatian dan pembelajaran bersama. Mulai dari orang tua, sekolah, dan aparat keamanan, harus lebih meningkatkan pengawasan dan kewaspadaan.

“Saya pikir ini harus betul-betul dijadikan pembelajaran bagi kita semua. Mulai dari orang tua, pihak sekolah, dan aparat keamanan, harus bisa membuat anak-anak terjamin keamanannya. Terhindar dari segala bentuk bahaya, termasuk dari penculikan,” ucap Mbak Tunjung.

Lanjutnya, para orang tua harus lebih mengawasi pergerakan anak-anaknya. Menurutnya, para orang tua harus memberikan pembatasan terhadap pergaulan sang anak. Sehingga ketika anak bermain di luar rumah, masih tetap berada dalam pantauan.

“Sehingga saya kira perlu diberi pembatasan dalam bermain, misalnya dari segi waktunya dan dari segi zonanya. Misal kalau malam ya harus di rumah dan kalau bermain ya jangan jauh-jauh dari rumah,” kata Mbak Tunjung.

“Dan yang terpenting lagi, jangan sampai karena sibuk bekerja, orang tua menjadi lupa akan tugasnya dalam mengurus anak. Karena bagaimana pun anak tanggung jawab utamanya kan ada di orang tua,” sambungnya.

Selanjutnya, untuk pihak sekolah, Mbak Tunjung meminta untuk memaksimalkan pengamanan dan pemantauan peserta didik selama berada di sekolah. Pihak sekolah juga diminta untuk memastikan penjemput siswa benar-benar keluarga.

“Jika mengetahui penjemput siswa bukan orang yang dikenal maka peserta didik harus diminta tetap berada di sekolah sementara orang tua atau wali muridnya dihubungi untuk menjemputnya,” katanya.

Selain itu, untuk mencegah penculikan anak di sekolah, wali kelas masing-masing disarankan untuk rutin berkomunikasi dengan wali murid. Tujuannya, mulai dari berangkat sekolah hingga pulang kembali ke rumah, anak dalam kondisi aman dan selamat.

Selanjutnya Mbak Tunjung juga meminta aparat keamanan, dalam hal ini Babinsa dan Babhinkamtibmas untuk lebih memperketat pengawasan di kampung-kampung. Apabila ada orang asing yang masuk kampung harus dipastikan orang tersebut tidak berbuat tindakan kriminal.

“Apalagi Kota Semarang kan memiliki CCTV hingga di tingkat kelurahan ya. Jadi itu kan bisa dimaksimalkan, itu sangat mendukung proses pemantauan anak-anak dan juga orang-orang tak dikenal yang memiliki niat tidak baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mbak Tunjung mengatakan bahwa untuk menghindari hal ini dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Seluruh elemen masyarakat di Kota Semarang memiliki tanggung jawab dalam tumbuh-kembangnya anak-anak.

“Anak-anak adalah generasi bangsa, anak-anaklah yang akan melanjutkan perjuangan kita suatu saat nanti. Jadi menjaga dan merawat anak adalah tanggung jawab kita bersama,” tutup Mbak Tunjung.