Koperasi Merah Putih Sampangan Semarang Jadi Penggerak Ekonomi Warga, Omzet Tembus Rp60 Juta

Suasana Workshop Media “Cerita Koperasi Desa, Jadi Berita Bermakna” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital⁠ di Semarang, Rabu (6/5/2026). (Foto: Dok. Komdigi)

INDORAYA – Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Sampangan, Kota Semarang, berkembang menjadi pusat penggerak ekonomi warga setelah dirintis secara sederhana dari ruang tamu rumah pengurusnya pada pertengahan 2025 lalu.

Kini, koperasi tersebut tak hanya melayani kebutuhan sembako warga, tetapi juga menyediakan LPG hingga layanan keuangan untuk masyarakat dan pelaku UMKM sekitar.

Ketua KKMP Sampangan, Kuncar Asriyanto, mengatakan koperasi mulai dirintis pada Juni 2025 dengan kondisi yang serba terbatas. Saat itu, operasional koperasi masih dijalankan dari rumah pribadinya.

“Awalnya kami mulai dari ruang tamu rumah. Karena semakin berkembang, kami kemudian meminjam ruang pelayanan kelurahan untuk dijadikan tempat koperasi,” ujarnya usai Workshop Media “Cerita Koperasi Desa, Jadi Berita Bermakna” yang digelar Kementerian Komunikasi dan Digital⁠ di Kota Semarang, Rabu (6/5/2026).

Menurut Kuncar, perkembangan koperasi terlihat dari peningkatan omzet usaha yang cukup signifikan. Pada tahun pertama, koperasi hanya mampu mencatat penutupan buku sekitar Rp12,5 juta akibat keterbatasan tempat dan operasional.

Namun setelah memperluas layanan dan mendapat tempat yang lebih representatif, omzet koperasi melonjak hingga mencapai Rp60 juta dalam penutupan buku bulan terakhir.

“Tahun lalu karena tempat masih terbatas kita tutup buku sekitar Rp12,5 juta. Setelah koperasi semakin berkembang, bulan kemarin kita tutup buku mencapai Rp60 juta,” katanya.

Pihak koperasi menargetkan pendapatan hingga akhir 2026 dapat mencapai Rp600 juta. Komoditas sembako seperti beras dan minyak goreng masih menjadi penopang utama usaha koperasi tersebut.

Selain melayani anggota, koperasi juga mulai menggandeng pelaku UMKM lokal sebagai pemasok berbagai kebutuhan. Langkah itu dinilai mampu menggerakkan aktivitas ekonomi warga sekitar secara lebih terpusat.

“Setelah ada koperasi, aktivitas ekonomi warga jadi lebih bergairah. Banyak anggota maupun pelaku UMKM membeli kebutuhan sembako di sini, termasuk minyak goreng yang harganya lebih terjangkau,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital⁠, Farida Dewi Maharani, mengatakan pemerintah terus mendorong koperasi desa dan UMKM agar semakin terhubung dengan ekosistem digital.

Menurutnya, hingga kini sudah terdapat sekitar 83 ribu KDKMP di seluruh Indonesia yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi kerakyatan. Meski demikian, dari sekitar 60 juta UMKM nasional, baru sekitar 40 persen yang masuk ke ekosistem digital.

“Transformasi digital UMKM dan koperasi desa tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi kolektif agar UMKM bisa naik kelas dan berkelanjutan,” ujar Farida.

Ia menyebut pemerintah telah memperluas infrastruktur telekomunikasi nasional dengan cakupan jaringan 4G mencapai 98,95 persen populasi Indonesia, sementara layanan 5G sudah tersedia di pusat-pusat ekonomi dan kawasan urban.

Sementara itu, Asisten Deputi Digitalisasi Koperasi Kementerian Koperasi, Riza Azmi, menyampaikan bahwa seluruh Koperasi Merah Putih kini mulai diperkuat dengan Sistem Informasi Manajemen Koperasi Desa (Simkopdes) sebagai bagian dari modernisasi tata kelola koperasi.

“Simkopdes menjadi fondasi teknologi untuk transparansi, efisiensi operasional, dan kemudahan akses bagi anggota koperasi,” katanya.