Daya Beli Warga Jateng Masih Kuat, BI Catat Keyakinan Konsumen 113,09

Date:

INDORAYA – Daya beli masyarakat Jawa Tengah masih menunjukkan kondisi yang cukup kuat. Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah mencatat keyakinan konsumen pada Juli 2026 tetap berada pada level optimistis dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 113,09.

Capaian tersebut menunjukkan masyarakat masih memiliki pandangan positif terhadap kondisi perekonomian Jawa Tengah. Optimisme konsumen juga menjadi sinyal bahwa aktivitas konsumsi masyarakat masih relatif terjaga.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari mengatakan, optimisme konsumen terhadap perekonomian Jawa Tengah tetap terjaga pada Juli 2026.

“Optimisme konsumen terhadap perekonomian Jawa Tengah pada Juli 2026 tetap terjaga. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen sebesar 113,09 yang berada pada level optimis,” ujar Andi, Jumat (28/8/2026).

Capaian IKK Jawa Tengah tersebut juga sejalan dengan kondisi nasional. Berdasarkan Survei Konsumen, IKK nasional pada Juli 2026 tercatat sebesar 116,8.

Menurut Andi, optimisme konsumen Jawa Tengah tidak hanya tercermin dari penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga dari ekspektasi terhadap perekonomian dalam beberapa bulan ke depan.

Hal itu terlihat dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang mencapai 105,08 pada Juli 2026. Angka tersebut masih berada di atas level 100 atau masuk kategori optimistis.

“Kondisi ekonomi saat ini masih dipersepsikan secara positif oleh konsumen, terutama dari sisi penghasilan dan konsumsi barang tahan lama yang berada pada level optimis,” jelasnya.

Optimisme masyarakat bahkan terlihat lebih kuat ketika melihat prospek ekonomi dalam enam bulan mendatang. BI Jateng mencatat Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Juli 2026 mencapai 121,11.

Angka tersebut menunjukkan konsumen masih memiliki keyakinan positif terhadap prospek perekonomian Jawa Tengah hingga awal 2027.

Andi mengatakan ekspektasi positif tersebut ditopang oleh tiga aspek utama, yakni penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, serta kegiatan usaha.

“Ekspektasi konsumen terhadap perekonomian Jawa Tengah diprakirakan tetap kuat. Optimisme terutama didukung oleh pandangan terhadap penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, dan kegiatan usaha dalam enam bulan mendatang,” katanya.

Dengan IKK dan IKE yang masih berada di atas 100, BI melihat kepercayaan masyarakat terhadap perekonomian Jawa Tengah masih terjaga. Kondisi tersebut turut menjadi indikasi bahwa daya beli masyarakat belum menunjukkan pelemahan yang berarti.

Keyakinan konsumen menjadi salah satu indikator penting bagi aktivitas ekonomi daerah. Ketika masyarakat masih optimistis terhadap kondisi ekonomi dan penghasilan, konsumsi barang maupun jasa cenderung tetap berjalan.

BI Jawa Tengah akan terus memantau perkembangan keyakinan konsumen sebagai salah satu indikator dinamika perekonomian daerah, khususnya terkait daya beli masyarakat dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan.

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Hampir 80 Persen Mata Air Muria Kering, Pemprov Jateng Siapkan Rorak sebagai Solusi Cepat

Hampir 80 persen dari 116 titik mata air di kawasan Gunung Muria dalam kondisi kering atau mati. Untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan itu sekaligus menekan ancaman banjir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menyiapkan pembangunan rorak atau lubang resapan air di kawasan hutan.

Progres Baru 46 Persen, Gus Yasin Minta Talud Colo Kudus Rampung Sebelum 15 Desember

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen meminta kontraktor menyelesaikan pembangunan talud di ruas Kudus-Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, paling lambat 15 Desember 2026.

Buruh Jateng Desak UMP 2027 Sesuai KHL, Minta Upah Sektoral Diperluas

Aliansi Buruh Jawa Tengah (ABJaT) mendesak Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menetapkan upah minimum provinsi (UMP) dan upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2027 sesuai kebutuhan hidup layak (KHL).

KY Kenalkan PERANTAU, Upaya Baru Tingkatkan Efektivitas Pengawasan Hakim

Komisi Yudisial (KY) memperkenalkan inovasi Rintisan Pengadilan Ramah Pantau (PERANTAU) sebagai upaya meningkatkan efektivitas pengawasan perilaku hakim. Program ini mulai dirintis dengan menjadikan Pengadilan Negeri (PN) Semarang sebagai lokasi percontohan.