INDORAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surakarta, Jawa Tengah, menggandeng mitra kerja untuk mengantisipasi dampak kekeringan di musim kemarau.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kota Surakarta Niko Agus Putranto, mengatakan salah satu programnya ialah BPBD berkoordinasi dengan pengelola hotel untuk menyediakan suplai air saat sumur-sumur warga kering.
“Musim kemarau panjang ini kami waspadai semuanya. Sebelumnya kami sudah koordinasi dengan kewilayahan untuk wilayah rawan kekeringan. Dalam waktu dekat kami tingkatkan koordinasi dengan stakeholder lainnya termasuk pengelola hotel,” kata dia, di Solo, Jumat (8/9/23).
Dia pun menyebutkan sejumlah wilayah kekeringan, di antaranya Serengan, Sangkrah, Banyuanyar, Gilingan, Laweyan, dan Mojosongo. Di samping itu, katanya BPBD mewaspadai sebanyak 58 titik rawan krisis air yang wilayahnya memiliki sumur dalam.
Niko menilai, penurunan debit air di sumur dangkal warga berpotensi terjadi saat kemarau lantaran adanya fasilitas sumur dalam di wilayah tersebut.
“Data sumur dalam yang saya pegang ada 50 titik. Di lokasi atau wilayah sekitar sumur dalam itu berpotensi memicu kekeringan sumur dangkal milik warga,” jelas dia.
Namun, Niko juga mengatakan sampai saat ini keberadaan sumur dalam belum begitu berpengaruh pada sumur dangkal yang ada di sekitarnya.
Sebelumnya, Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka mengatakan fenomena kekeringan dan krisis air di beberapa daerah menjadi perhatiannya saat kemarau panjang seperti saat ini. Dia pun menyampaikan suplai air akan tetap bisa dipenuhi.
“Soal kekeringan kami waspadai, yang penting saat terjadi langsung segera ada solusi yang diberikan ke warga terdampak,” ujar dia.


