Liburan Berujung Duka, Satu Keluarga Tewas di Posong Dimakamkan Berdampingan di Banyubiru Semarang

Date:

INDORAYA – Suasana duka menyelimuti Dusun Bendosari, Desa Kebumen, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, Kamis (28/5/2026). Empat anggota keluarga yang ditemukan meninggal dunia usai menginap di kawasan wisata alam Posong, Kabupaten Temanggung, dimakamkan berdampingan di kampung halaman mereka.

Korban diketahui bernama Muhammad Ali Munawar (52), istrinya Maghfirah (43), serta dua putra mereka, Bagas Amar Hakiki (21) dan Alvino Evan Hakim (16).

Keempat jenazah tiba di rumah duka sekitar pukul 15.27 WIB dan langsung disambut isak tangis keluarga, kerabat, serta warga sekitar.

Setelah tiba, jenazah dibawa ke masjid setempat untuk disalatkan bersama oleh warga, keluarga besar, dan para pelayat. Prosesi penghormatan terakhir kemudian berlangsung di rumah duka sebelum seluruh jenazah diberangkatkan menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sorogeni, Dusun Bendosari.

Di area pemakaman, empat liang lahat telah dipersiapkan berdekatan sebagai tempat peristirahatan terakhir keluarga tersebut.

Meski tidak berada dalam satu deret persis, keluarga memastikan Ali Munawar, Maghfirah, Bagas dan Alvino dimakamkan berdampingan sebagai simbol kebersamaan mereka yang tak terpisahkan.

Hujan yang turun menjelang prosesi pemakaman seolah menambah pilu suasana. Tangis keluarga dan kerabat pecah mengiringi pemakaman empat anggota keluarga yang kepergiannya begitu mendadak.

Warga sekitar mengaku masih sulit mempercayai tragedi yang menimpa keluarga tersebut. Liburan keluarga ke kawasan Posong, lereng Gunung Sindoro, yang semula diharapkan menjadi momen kebersamaan justru berakhir duka mendalam.

Dikenal Dermawan dan Dekat dengan Warga

Di mata warga, Ali Munawar dan Maghfirah dikenal sebagai sosok ramah dan dermawan.

Menurut Ashadi (51), adik Maghfirah, pasangan tersebut merupakan pekerja keras yang mengelola toko kelontong besar di Pasar Lanang, Ambarawa.

Selain berdagang, Maghfirah juga aktif mengembangkan budidaya anggur hingga membuka wisata petik buah di sekitar rumahnya di Banyubiru.

“Kami tidak tahu mereka pergi ke Temanggung untuk berlibur. Tahunya justru saat mereka ditemukan meninggal dunia pada Rabu sore. Mereka itu orangnya baik, ramah sama warga,” ungkap Ashadi.

Ia mengenang Ali Munawar sebagai pribadi yang dekat dengan keluarga dan warga desa. Bahkan, banyak karyawan usaha keluarga berasal dari lingkungan sekitar.

“Dermawan sekali, baik sama keluarga dan tetangga. Banyak warga desa yang bekerja di tempat mereka. Jadi banyak yang kehilangan,” katanya.

Meski sehari-hari tinggal di kawasan Temenggungan, Kelurahan Panjang, Ambarawa, keluarga tersebut disebut rutin pulang ke Banyubiru hampir setiap akhir pekan.

Kedua Putra Dikenal Berprestasi
Tak hanya kedua orang tuanya, Bagas dan Alvino juga dikenal sebagai sosok muda yang baik dan berprestasi.

Bagas Amar Hakiki diketahui bekerja sebagai fotografer di Keraton Yogyakarta setelah sebelumnya menjalani program magang di lingkungan keraton. Ia juga tercatat sebagai lulusan Program Studi Sastra Prancis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta serta alumni SMA Negeri 1 Salatiga.

Sementara adiknya, Alvino Evan Hakim, merupakan siswa kelas 10 SMA Negeri 1 Salatiga sekaligus atlet taekwondo Kabupaten Semarang.

Salah satu teman Alvino, Siena (16), mengaku kehilangan sosok sahabat yang dikenal ramah, ceria dan mudah bergaul.

“Baik sekali orangnya, ramah, lucu, gampang bergaul,” kata Siena saat melayat di rumah duka.

Siena mengaku sempat berkomunikasi dengan Alvino pada Selasa malam sebelum kejadian. Dalam pesan WhatsApp, Alvino mengaku sedang dalam perjalanan menuju kawasan pegunungan di Temanggung bersama keluarganya.

“Dia bilang lagi perjalanan sama keluarga, mau naik gunung di Temanggung. Setelah itu bilang nanti lanjut chat karena pusing kalau main HP di mobil,” ujarnya.

Ia tak menyangka percakapan tersebut menjadi komunikasi terakhir mereka.

“Sedih sekali. Tidak ada firasat apa-apa. Saya tidak menyangka itu jadi obrolan terakhir,” ucapnya.

Sebelumnya, satu keluarga tersebut ditemukan meninggal dunia usai menginap di tenda Glamping Safari Nomor 3, kawasan wisata alam Posong, Desa Tlahap, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.

Korban diketahui menginap sejak Selasa (26/5/2026) malam dan ditemukan tidak bernyawa pada Rabu (27/5/2026) sore sekitar pukul 16.00 WIB.

Hingga kini, polisi masih menunggu hasil autopsi dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kematian. Dugaan sementara mengarah pada kemungkinan keracunan setelah korban diduga sempat memasak dan menikmati barbeque di dalam tenda menggunakan perlengkapan yang dibawa sendiri.

Share post:

Subscribe

spot_imgspot_img

Popular

More like this
Related

Hampir 80 Persen Mata Air Muria Kering, Pemprov Jateng Siapkan Rorak sebagai Solusi Cepat

Hampir 80 persen dari 116 titik mata air di kawasan Gunung Muria dalam kondisi kering atau mati. Untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan itu sekaligus menekan ancaman banjir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menyiapkan pembangunan rorak atau lubang resapan air di kawasan hutan.

Progres Baru 46 Persen, Gus Yasin Minta Talud Colo Kudus Rampung Sebelum 15 Desember

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen meminta kontraktor menyelesaikan pembangunan talud di ruas Kudus-Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, paling lambat 15 Desember 2026.

Buruh Jateng Desak UMP 2027 Sesuai KHL, Minta Upah Sektoral Diperluas

Aliansi Buruh Jawa Tengah (ABJaT) mendesak Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menetapkan upah minimum provinsi (UMP) dan upah minimum kabupaten/kota (UMK) 2027 sesuai kebutuhan hidup layak (KHL).

KY Kenalkan PERANTAU, Upaya Baru Tingkatkan Efektivitas Pengawasan Hakim

Komisi Yudisial (KY) memperkenalkan inovasi Rintisan Pengadilan Ramah Pantau (PERANTAU) sebagai upaya meningkatkan efektivitas pengawasan perilaku hakim. Program ini mulai dirintis dengan menjadikan Pengadilan Negeri (PN) Semarang sebagai lokasi percontohan.