INDORAYA – Minat masyarakat terhadap wisata edukasi terus menunjukkan tren positif. Hal tersebut tercermin dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Museum Batik Pekalongan selama masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025.
Tercatat, kunjungan ke Museum Batik Pekalongan mencapai sekitar 1.080 pengunjung sepanjang libur Nataru 2025. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat sebanyak 840 kunjungan.
Kepala Museum Batik Pekalongan, Nurhayati Sinaga menyampaikan, peningkatan tersebut menjadi indikator bahwa museum kini semakin diminati sebagai alternatif destinasi liburan yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif.
“Jika dibandingkan dengan tahun lalu, kunjungan liburan akhir tahun 2025 mengalami kenaikan yang cukup baik. Rata-rata harian bisa mencapai 200 pengunjung,” ujarnya dalam keterangan yang diterima.
Ia menjelaskan, pengunjung Museum Batik Pekalongan selama libur akhir tahun didominasi wisatawan luar daerah. Mereka datang dari berbagai kota besar seperti Jakarta, Semarang, Bekasi, serta sejumlah wilayah lain di Indonesia.
Menurut Nurhayati, karakter pengunjung juga cukup beragam, mulai dari keluarga hingga kalangan anak muda. Momentum libur akhir tahun dimanfaatkan untuk berwisata sambil mengenal lebih dekat sejarah dan kekayaan budaya batik Pekalongan.
Tidak hanya menampilkan koleksi batik, Museum Batik Pekalongan juga menghadirkan pameran tematik yang memberikan nilai tambah bagi pengunjung. Pada momen libur Natal dan akhir tahun 2025, museum tersebut menggelar pameran karya penyandang disabilitas yang berlangsung sejak 9 Desember 2025 di Ruang Pamer 1.
“Melalui pameran (karya) disabilitas ini, kami ingin menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukanlah halangan. Layaknya kain yang mungkin tidak sempurna, justru nilai dan keunikannya dapat ditampilkan dan dikembangkan,” tandasnya.
Pameran tersebut tidak hanya menjadi daya tarik tambahan, tetapi juga sarana edukasi publik tentang inklusivitas dan penghargaan terhadap karya penyandang disabilitas.
Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri bagi para penyandang disabilitas, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya ruang budaya yang ramah dan inklusif.
Dengan tren kunjungan yang terus meningkat, pengelola berharap Museum Batik Pekalongan dapat semakin memperkuat perannya sebagai destinasi wisata edukatif, ruang pembelajaran budaya, serta wadah apresiasi terhadap keberagaman di tengah masyarakat.


