Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Wapim DPRD Jateng Dorong Pemprov Bentuk Sistem Perlindungan Terpadu bagi Pekerja Informal
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
EkonomiJatengKesehatan

Wapim DPRD Jateng Dorong Pemprov Bentuk Sistem Perlindungan Terpadu bagi Pekerja Informal

By Ainun Nafisah
Jumat, 24 Okt 2025
Share
3 Min Read
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko.
SHARE

INDORAYA — Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, menilai pemerintah daerah perlu segera membangun sistem perlindungan terpadu bagi pekerja informal. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap jutaan masyarakat yang menggantungkan hidup dari pekerjaan tanpa kontrak dan jaminan sosial.

Menurutnya, sektor informal seperti buruh cuci, pedagang kaki lima, tukang ojek, hingga pekerja rumah tangga merupakan tulang punggung ekonomi daerah. Namun selama ini masih terpinggirkan dari sistem jaminan ketenagakerjaan.

“Pekerja informal ini jumlahnya besar sekali, tapi sebagian besar tidak tercatat dan tidak punya perlindungan sosial yang layak. Padahal mereka juga bagian dari produktivitas ekonomi Jawa Tengah,” ujar Heri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah 2025, jumlah pekerja informal di provinsi ini mencapai lebih dari 6,2 juta orang atau sekitar 60% dari total angkatan kerja.

Dari angka tersebut, sebagian besar bekerja di sektor perdagangan, pertanian, dan jasa rumah tangga; tiga bidang yang paling rentan terhadap risiko ekonomi dan sosial.

Heri menekankan bahwa kebijakan jaminan kerja tidak boleh eksklusif untuk sektor formal, karena ketimpangan perlindungan justru memperlebar jurang kesejahteraan.

Ia mengusulkan agar Pemprov Jateng membangun sistem berbasis data terpadu, sehingga setiap pekerja nonformal bisa terdaftar dan diikutkan dalam program perlindungan sosial.

“Pemprov perlu berkolaborasi dengan kabupaten/kota dan BPJS Ketenagakerjaan untuk membuat skema sederhana tapi menjangkau. Misalnya, dengan iuran mikro atau subsidi bagi kelompok berpenghasilan rendah,” jelasnya.

Ilustrasi: Pekerja informal di bidang pertanian.

Selain jaminan sosial, Heri juga menyoroti pentingnya pelatihan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi bagi pekerja informal, agar mereka tidak terus-menerus bergantung pada penghasilan harian yang tidak pasti.

“Pelindungan sosial harus dibarengi dengan penguatan kapasitas. Kalau tidak, pekerja informal akan terus hidup dalam siklus ketidakpastian,” katanya.

Politikus yang akrab disapa Heri Londo itu menilai, pembentukan sistem perlindungan terpadu juga sejalan dengan agenda pembangunan inklusif dan berkeadilan sosial yang dicanangkan pemerintah pusat.

Ia menegaskan bahwa kebijakan sosial seharusnya berpihak kepada mereka yang paling rentan, bukan hanya kepada kelompok ekonomi mapan.

“Negara tidak boleh abai terhadap mereka yang hidup dari kerja serabutan. Justru dari merekalah fondasi ekonomi rakyat itu tumbuh. Maka sudah seharusnya ada mekanisme perlindungan yang nyata, bukan sekadar formalitas di atas kertas,” tegasnya.

“Pekerja informal bukan kelompok marginal. Mereka adalah bagian penting dari nadi ekonomi rakyat. Perlindungan mereka adalah bentuk nyata kehadiran negara,” pungkas Heri. [Adv]

TAGGED:Heri Pudyatmokojaminan sosialPekerja Informal Jateng
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Prancis dan Kanada Resmi Buka Konsulat di Nuuk, Tegaskan Dukungan untuk Greenland Sabtu, 07 Feb 2026
  • Gajah Sumatera Ditembak Mati di Pelalawan, Belalai dan Gading Hilang Sabtu, 07 Feb 2026
  • Kepala KPP Madya Banjarmasin Mulyono Akui Terima Suap Restitusi Pajak, Kini Ditahan KPK Sabtu, 07 Feb 2026
  • Budisatrio Tegaskan “Kompak, Bergerak, Berdampak” di HUT ke-18 Gerindra DPR RI Sabtu, 07 Feb 2026
  • HUT ke-18 Gerindra, Prabowo Ingatkan Kader Jaga Uang Rakyat dan Hindari Perbuatan Tercela Sabtu, 07 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko: Pendidikan Merata Kunci Daya Saing Jawa Tengah Jumat, 06 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Primer di Jawa Tengah Jumat, 06 Feb 2026

Berita Lainnya

Jateng

Heri Pudyatmoko: Pendidikan Merata Kunci Daya Saing Jawa Tengah

Jumat, 06 Feb 2026
Jateng

Heri Pudyatmoko Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Primer di Jawa Tengah

Jumat, 06 Feb 2026
Jateng

Peringati HUT ke-18, Gerindra Jateng Minta Kader Rawat dan Tertibkan Atribut Partai

Jumat, 06 Feb 2026
Jateng

Peringatan HUT ke-18 Gerindra Jateng Tak Ada Pesta Pora, Fokus Baksos dan Penanganan Bencana

Jumat, 06 Feb 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?