Ad imageAd image

Wamenag Tekankan Moderasi Beragama Buka Ruang Saling Hargai Perbedaan

Kartika Ayu
By Kartika Ayu 116 Views
2 Min Read
Pembinaan ASN dan Penguatan Moderasi Beragama oleh Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa'adi di Kankemenag Cimahi. (Foto : Kemenag.go.id)

INDORAYA – Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Sa’adi, mengatakan Moderasi Beragama memastikan sesama umat beragama, bisa membuka ruang untuk saling menghargai perbedaan.

Pandangan ini disampaikan Wamenag Zainut Tauhid Sa’adi, di hadapan puluhan ASN Kemenag Kota Cimahi, Jawa Barat dalam Pembinaan dan Penguatan Moderasi Beragama bagi ASN Kemenag, yang juga digelar secara daring.

“Moderasi Beragama memastikan kita bisa membuka ruang untuk saling menghargai perbedaan dengan orang lain. Bahwa kita meyakini agama kita yang benar dan memberikan hak keyakinan kepada mereka yang berbeda agama,” ujar Wamen, dalam kunjungan kerjanya ke Kankemenag Cimahi, Sabtu (12/2/2022).

Pembinaan dan penguatan Moderasi Beragama bagi ASN Kemenag Kota Cimahi ini, turut dihadiri Sekda Kota Cimahi Dikdik Suratno Nugrahawan, Plt Kakanwil Kemenag Jabar H Yusuf, dan Kakankemenag Kota Cimahi H Dudu Rohman.

Wamenag menjelaskan, moderasi beragama merupakan salah satu program prioritas Kementerian Agama, yang sudah dicanangkan Menag Yaqut Cholil Qoumas dan wajib dikuti oleh segenap ASN Kemenag.

“Ini menjadi persoalan penting, yang harus dipahami bersama. Sebab masih banyak yang belum memahami moderasi beragama. Yang dimoderatkan itu bukan agamanya, melainkan cara beragama dan memahami agama itu sendiri,” kata Wamenag, seperti dirilis Kemenag.go.id.

Menurut dia, perbedaan adalah sunatullah dan pemberian Tuhan. “Jangan kita seolah-olah menjadi panitia surga, dengan menyalahkan orang yang berbeda keyakinan. Apalagi sampai menyematkan lebel kafir kepada mereka yang tidak seiman atau berbeda keyakinan,” sambung Wamenag.

Dalam kesempatan itu, Wamenag juga berkisah saat menjabat Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, dia pernah didatangi sejumlah ulama asal Afganistan. Saat itu, para ulama Afganistan menyatakan kekagumannya akan toleransi dan kerukunan umat beragama di Indonesia.

“Kunjungan para ulama Afganistan itu, ternyata untuk belajar bagaimana Islam Wasathiyah bisa tumbuh dan berkembang di tengah ragam budaya, bahasa, dan agama di Indonesia, yang dipersatukan oleh Pancasila,” jelas Wamenag.

Ia menambahkan, Indonesia bukankah negara agama dan bukan negara sekuler. Namun tanpa moderasi beragama, Indonesia akan tercerai berai.

“Mari kita tebarkan narasi-narasi yang menyejukan, narasi toleransi, kerukunan, narasi kebangasaan dan persatuan untuk Indonesia maju,” kata Wamenag. (IR)

Share this Article