Ad imageAd image

Wali Kota Semarang Beberkan Kunci Keberhasilan Atasi Stunting

Dickri Tifani
By Dickri Tifani 2 Views
4 Min Read
Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menerima penghargaan dari PBB atas program penanganan stunting di wilayahnya. (Foto: tangkapan layar YouTube)

INDORAYA – Setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menerima penghargaan atas program penanganan stunting dari United Nations (UN) atau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kini, Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu membeberkan kunci sukses keberhasilan mampu menangani stunting di wilayahnya.

Yakni terobosannya dengan membuat program Sayangi Dampingi Ibu dan Anak Kota Semarang (SANPIISAN).

Mbak Ita, sapaan akrabnya, mengklaim program tersebut mampu menurunkan prevalensi angka stunting dari sebesar 1,06 persen di 2023 menjadi 0,95 persen di tahun 2024.

Hal itu berkat kerja keras jajaran dan seluruh stakeholder. Berkat perhatian khusus yang diberikan, upaya untuk menuju zero stunting di tahun 2024 kini makin dekat.

“Kunci sukses menangani stunting adalah gotong royong dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat. Pihak terkait mesti harus konsisten dalam memberikan pelayanan bagi wanita remaja, calon pengantin, ibu hamil dan balita,” ujar Mbak Ita, belum lama ini.

Lebih lanjut, Mbak Ita menegaskan bahwa program -program khususnya kesehatan haruslah berkelanjutan dan komperehensif, agar upaya yang telah dilakukan tidak sia-sia.

Di samping program yang telah berjalan, pemenuhan gizi untuk anak dan ibu hamil juga memiliki peran sangat penting untuk mencegah kenaikan angka stunting. Termasuk memberikan pemahaman kepada remaja putri.

Untuk di Kota Semarang, pendampingan pemenuhan gizi tersebut juga dibantu dengan adanya buku resep anti stunting dari Presiden RI kelima, Megawati Soekarnoputri berjudul Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil Untuk Generasi Emas.

“Salah satu upaya penanganan stunting dengan memberikan asupan gizi. Dan peran penting adanya buku resep dari ibu Megawati yang kemarin sudah diterbitkan dan ini menjadi acuan untuk pemenuhan gizi anak di Kota Semarang. Termasuk yang ada di day care dan pemenuhan gizi di posyandu,” sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Mbak Ita di hadapan seluruh khalayak mengakui, jika Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) selaku leader perlu berperan aktif dan berkolaborasi untuk bagaimana permasalahan stunting bisa teratasi. Intervensi sangat diperlukan, bahkan di Kota Semarang menerapkan sistem by name by adress, yang artinya penanganan stunting mesti tepat sasaran.

“Sehingga kami bisa melihat setiap kecamatan ini terdapat balita atau balita stunting, sehingga penanganannya ini akan komperehensif dan akan mendapatkan penanganan yang terintegrasi,” jelasnya.

Ke depan, Mbak Ita memastikan akan terus berupaya dan menggandeng pihak terkait untuk terlibat dalam penanganan stunting. Pemberdayaan masyarakat juga dilakukan di samping inovasi-inovasi digital yang terus didorong.

“Ini wujud penanganan kolaborasi, mulai dari anak remaja putri sampai ibu melahirkan, serta anaknya ini dirawat sampai besar. Ini pemberdayaan di mana kegiatan ini tidak hanya penanganan, tidak hanya anak saja atau ibu saja, tapi juga menjangkau ke ranah pemahaman remaja putri,” tuturnya.

Di sisi lain, Pemkot Semarang juga memiliki Rumah Pelita yang bisa digunakan untuk tempat penitipan anak. Di rumah itu, nantinya anak-anak akan mendapatkan penanganan kesehatan seperti dilakukan pemeriksaan baik itu dari gizi dan kondisi tubuhnya.

Sementara itu, Kepala BKKBN, dokter Hasto mengucapkan apresiasi kepada Pemkot Semarang dalam upaya-upaya penanganan stunting, bahkan meraih penghargaan dari United Nations (UN) atau Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Hasto mengakui apa yang dilakukan Pemkot Semarang dalam percepatan penurunan stunting sangat tepat sasaran.

“Totally betul-betul mengatasi masalah yang by name by adress gitu. Contoh saja ada Rumah Pelita, jadi di Kota Semarang itu mengumpulkan anak-anak stunting menjadi satu kelas yang kemudian di situ diurus betul, diintervensi betul, diberikan makanan tambahan, ditreatmen lingkungannya, sanitasinya. Jadi betul-betul anak stunting ditangani oleh tim dan Bu Wali Kota. Makanya wajarlah dapat penghargaan itu,” imbuhnya.

Ke depan, ia berharap apa yang sudah dilakukan di Kota Semarang bisa menjadi percontohan. Dirinya mengakui, penanganan stunting harus masif dilakukan untuk menuju Indonesia Generasi Emas 2045.

Share This Article