Ad imageAd image

Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Masyarakat Waspadai Ancaman Bencana

Redaksi
By Redaksi 103 Views
4 Min Read
Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko (tengah) saat melaksanakan tinjauan program kegiatan bersama jajaran pimpinan DPRD Jateng belum lama ini.

INDORAYA – Masyarakat Jawa Tengah diminta untuk tetap waspada akan ancaman bencana. Hal itu karena beberapa hari terakhir ini di wilayah Jawa Tengah terjadi anomali cuaca yang cenderung ekstrem. Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko menegaskan, kewaspadaan bencana juga harus dilakukan BPBD Jawa Tengah dan stakholder terkait di daerah.

“Apalagi beberapa hari terakhir ini, kejadian bencana terjadi di banyak daerah. Seperti banjir di Kendal, Batang, dan Kota Semarang. Selain itu juga ada kejadian tanah longsor di Temanggung, Batang, dan juga Kota Semarang,” katanya, Sabtu (19/2/2022).

Tak hanya di Jateng, di wilayah lain seperti Bogor, Jawa Barat juga terjadi bencana banjir yang cukup parah. Untuk itu dia meminta semua pihak tetap waspada akan ancaman bencana ini. Dia mengatakan, upaya peningkatan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana membutuhkan peran semua pihak agar dapat berjalan dengan optimal, mulai dari unsur pemerintah, masyarakat, dunia usaha, hingga elemen relawan yang ada di wilayah Jawa Tengah.

BACA JUGA:   Kawanan Kera Liar 'Serang' Pemukiman Warga Kalisegoro Gunungpati, Begini Hasil Temuan BKSDA Jateng

Pemerintah daerah, juga perlu melakukan mitigasi bencana dan menyosialisasikan secara masif kepada masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan rawan bencana. Langkah ini penting dilakukan guna mengantisipasi dan meminimalkan jatuhnya korban jiwa, sebagai dampak terjadinya bencana alam di sejumlah wilayah.

“Mitigasi penting guna memetakan titik-titik atau kawasan mana saja yang berpotensi terjadi bencana alam berdasarkan karakteristik wilayah serta lingkungannya. Termasuk apa saja yang harus dilakukan manakala gejala atau tanda-tanda alam (cuaca) akan memperbesar risiko ancaman bencana alam. Data-data mitigasi tersebut juga harus diperbarui agar masyarakat semakin tanggap,” katanya.

“Setelah itu juga ada upaya-upaya untuk pencegahan, mekanisme penanganan darurat, hingga proses evakuasi,” tegasnya lagi.

Diketahui, menurut prediksi BMKG, hujan sedang hingga lebat akan sering mengguyur seluruh wilayah Jawa Tengah dalam sepekan ke depan. Hal itu disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Sutikno, Jumat (18/2/2022). Dia mengatakan dari hasil analisis dinamika atmosfer yang pihaknya lakukan, menyatakan pada bulan Februari ini wilayah Jateng masih masuk musim hujan.

BACA JUGA:   Akibat Tak Memotong Kuku Selama 25 Tahun, Wanita Asal AS Ini Mendapatkan Guinness World Record

“Berdasarkan data analisis dinamika atmosfer bahwa memang untuk wilayah Jawa Tengah atau secara umumnya di beberapa wilayah di Indonesia ini masih berpotensi atau puncak musim hujan di bulan Februari ini,” kata Sutikno.

Untuk di wilayah Jawa Tengah sendiri, ia menyampaikan ada beberapa faktor yang mepengaruhi adanya cuaca ekstrem. Khusus untuk wilayah Jawa Tengah, beberapa hal yang jadi salah satu pemicu dengan adanya cuaca ekstrem ataupun hujan dalam bentuk lama, di antaranya adalah anomali suhu muka laut masih terasa hangat yang terjadi di Samudra Hindia, meningkatnya pertumbuhan awan hujan yang berada di sisi selatan Jawa Tengah, dan masih tingginya kelembapan udara. Hal tersebut yang menyebabkan munculnya awan hujan.

BACA JUGA:   Hadapi Tantangan Zaman, Tidar Kota Semarang gelar Diskusi kepemudaan

“Artinya berdasarkan kondisi tersebut, kami dari BMKG memperkirakan potensi curah hujan dengan intensitas sedang atau lebat itu masih berpotensi di wilayah Jawa Tengah. Selanjutnya, karena Jawa Tengah berada di periode puncak musim hujan, yaitu di bulan Februari ini, sehingga kejadian hujan dengan intesitas sedang atau lebat masih sangat berpotensi di terjadi seluruh Jawa Tengah tentunya,” tuturnya.

Tak hanya potensi hujan, Sutikno juga menyampaikan kondisi tanah sudah sangat jenuh. Sehingga ia mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada, terutama masyarakat yang berada di daerah daratan tinggi hingga yang berada di lereng pegunungan, untuk lebih berhati-hati atas adanya bencana alam.

“Sehingga untuk masyarakat atau untuk daerah memiliki topografi curam atau bergunung hingga tebing atau rawan longsor, untuk bisa meningkatkan kewaspadaan,” pungkasnya.(Advetorial-IR)

Share this Article