INDORAYA – Puluhan buruh yang tergabung dalam Aliansi Buruh Jawa Tengah (Abjat) menggelar aksi unik di depan Balai Kota Semarang, Jumat (7/11/2025). Mereka melakukan aksi “topo pepe” atau berjemur di bawah terik matahari di Jalan Pemuda, tepat di depan Kantor Wali Kota Semarang.
Aksi ini berlangsung selama dua hari berturut-turut, Kamis dan Jumat, 6–7 November 2025, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan upah di Kota Semarang yang dinilai tidak manusiawi.
Koordinator Jaringan Abjat, Aulia Hakim, menjelaskan bahwa topo pepe menjadi simbol keprihatinan sekaligus desakan moral kepada pemerintah kota agar menetapkan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) dan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) Tahun 2026 dengan besaran yang layak.
“Tuntutan utama kami adalah penetapan UMK dan UMSK 2026 dengan nilai yang mampu memenuhi kebutuhan hidup layak bagi kemanusiaan,” ujar Aulia.
Menurut Aulia, hingga aksi berakhir, belum ada tanda-tanda kebijakan dari Wali Kota Semarang yang berpihak kepada buruh.
Selain itu, ia juga menyinggung kebijakan sebelumnya, di mana Wali Kota melarang pelaksanaan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) pada 1 Mei 2025.
Sementara itu, pentolan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Jawa Tengah, menyoroti bahwa Semarang kini menjadi kota metropolitan dengan tingkat upah terendah di Indonesia.
“Kami menuntut Wali Kota Semarang melakukan terobosan kebijakan perburuhan yang benar-benar berpihak kepada buruh,” ujarnya.
Selain pemerintah daerah, para buruh juga menyoroti pemerintah pusat yang dinilai terlalu menekan kepala daerah dalam penetapan upah minimum. Mereka menuding Menteri Dalam Negeri berpotensi memberikan sanksi kepada kepala daerah yang berani menaikkan upah di atas ketentuan pusat.
“Tindakan pemerintah pusat tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan harus segera dihentikan,” tegas perwakilan buruh.
Aksi topo pepe itu pun menarik perhatian warga yang melintas. Di tengah panas terik, para buruh tetap bertahan, menandakan tekad mereka agar nasib pekerja di Kota Semarang mendapat perhatian yang lebih adil.


