INDORAYA – Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang kembali mengalami insiden kebakaran. Kali ini, musibah menimpa armada Koridor 4 dengan rute Semarang Tawang–Cangkiran berkode IV.023 pada Minggu (2/11/2025) sekitar pukul 16.30 WIB.
Kebakaran terjadi sesaat setelah bus melewati tanjakan Silayur, Kedungpane, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang.
Bus bernomor polisi H 7044 OQ itu terekam kamera warga dan videonya viral di media sosial, salah satunya di akun @infokejadiansemarang.new.
Dalam video tersebut, tampak api muncul dari bagian bawah bus, disertai asap tebal di sisi depan kendaraan. Penumpang berhamburan keluar, sementara petugas berupaya mencegah api agar tidak menjalar lebih luas.
“Info bis terbakar, bolo. Lokasi di Kedungpane, Ngaliyan, Minggu 2 November 2025, sekitar jam 16.31. Kira-kira sebabnya apa ya, bolo?” tulis akun tersebut.
Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Haris Setyo Yunanto, membenarkan insiden itu. Ia menjelaskan, peristiwa terjadi pada trip ke-7, tak lama setelah bus melintasi tanjakan.
“Kronologinya terjadi di tanjakan Silayur, tepatnya pada trip ke-7. Penyebab awal diduga karena korsleting ampere pada sistem kelistrikan,” ujar Haris saat dikonfirmasi, Minggu (2/11/25) malam.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Seluruh penumpang berhasil dievakuasi dan langsung dipindahkan ke armada lain untuk melanjutkan perjalanan.
“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Seluruh penumpang langsung kami oper ke armada selanjutnya,” tambahnya.
Haris menuturkan, armada yang terbakar kini sudah diamankan ke garasi untuk menjalani pemeriksaan menyeluruh.
“Kami ingin memastikan apakah benar penyebabnya korsleting ampere atau ada faktor lain,” jelasnya.
Ia menambahkan, medan tanjakan di kawasan Silayur yang cukup curam diduga turut memicu overheat pada mesin bus, apalagi jika beban penumpang cukup tinggi.
“Kalau berbicara topografi tentu ada pengaruhnya. Beban kerja mesin juga tergantung jumlah penumpang,” ujarnya.
Selain faktor medan, usia armada juga disebut menjadi potensi penyebab gangguan teknis termasuk kebakaran.
“Usia armada juga menjadi salah satu faktor,” sambungnya.
Sebagai catatan, jalur ekstrem seperti Koridor 2 (Terboyo–Sisemut), Koridor 4 (Tawang–Cangkiran), dan Koridor 6 (Undip–Unnes) memang memiliki tingkat risiko operasional lebih tinggi karena kontur jalannya yang menanjak dan menurun.
Untuk itu, pihaknya berencana melakukan kajian khusus terhadap rute-rute dengan medan ekstrem guna memastikan keamanan operasional di masa mendatang.
“Nantinya kami akan melakukan kajian terperinci, khususnya untuk koridor dengan topografi ekstrem. Dari situ akan terlihat apakah perlu penambahan armada, penyesuaian jenis kendaraan, atau bahkan perubahan rute,” paparnya.
Kajian tersebut, kata Haris, juga akan melibatkan pihak eksternal, akademisi, dan instansi terkait di bidang transportasi.
“Iya, nanti melibatkan pihak eksternal, akademisi, dan pihak-pihak terkait,” pungkasnya.


