Terdampak Program Makan Bergizi Gratis, Omzet Pedagang di SDN Tanjung Turun 50%
Indah (39), pedagang snack SDN Tanjung, Rembang, omzet turun 50% akibat Makan Bergizi Gratis, tetap bertahan berjualan.
INDORAYA – Di bawah warung semi-permanen di depan SDN Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Dwi Indah Sri Susanti, yang akrab disapa Indah (39), merapikan tumpukan chiki dan susu saset di warung kecilnya. Selama 13 tahun, ia setia membuka lapak setiap jam 06.00-12.00 WIB, melayani anak-anak sekolah yang berebut sosis goreng, roti bakar, susu kotak, dan jajanan lainnya. Kini, sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) diberlakukan, warungnya sepi, omzetnya anjlok hingga separuh. Meski tanpa usaha sampingan, Indah tetap bertahan, didorong kecintaannya pada kuliner yang ia salurkan lewat akun TikTok Arsi Arsyila, sambil berharap pelanggan setianya kembali.
Program MBG, yang menyediakan makanan gratis untuk siswa, membuat anak-anak jarang jajan. Omzet Indah turun drastis.“Kalau anak-anak sudah dapat makan gratis di sekolah, otomatis mereka jarang beli jajanan, tapi saya tetap jualan seperti biasa,” ujar Indah, sambil membenahi dagangan.
Sebelum berjualan di depan sekolah, Indah pernah mengelola counter kecil di dekat Perempatan Desa Sulang, tapi lokasi di SDN Tanjung terasa lebih menjanjikan baginya. Tanpa usaha sampingan, ia memilih bertahan dengan warungnya, meski pendapatan merosot. Kecintaannya pada kuliner, yang ia ekspresikan melalui video-video di akun TikTok Arsi Arsyila, belum menjadi alat pemasaran untuk dagangannya, melainkan sekadar hobi yang menghibur di tengah kesibukannya.
Ia mengaku tidak tahu banyak tentang MBG dan memilih untuk tidak terlibat, lebih nyaman dengan ritme berjualan yang sudah akrab baginya selama lebih dari satu dekade.
Program Makan Bergizi Gratis, yang dirancang untuk memastikan siswa sekolah dasar mendapat asupan gizi seimbang, mensyaratkan makanan memenuhi standar keamanan pangan, gizi, dan sertifikasi halal, sesuai pedoman resmi pemerintah. Sekolah bekerja sama dengan penyedia makanan yang memenuhi kriteria ini, tetapi tidak ada aturan yang mengharuskan melibatkan pedagang lokal seperti Indah. Juga, tidak ada kewajiban bagi sekolah atau pemerintah untuk menginformasikan program ini kepada pedagang di sekitar sekolah, sehingga Indah tidak memiliki gambaran jelas tentang MBG. Peedagang hanya bisa mencari peluang dengan menyesuaikan produk mereka, misalnya menawarkan jajanan rendah gula atau berbahan lokal yang sesuai standar program, yang bergizi, atau bahkan bermitra dengan sekolah sebagai pemasok jika memenuhi syarat.
Bagi pedagang seperti Indah, memahami dampak MBG sangat penting. Program ini mengurangi pembelian jajanan karena siswa sudah mendapat makanan gratis, mendorong pedagang untuk mendiversifikasi pelanggan, seperti menargetkan orang tua atau warga sekitar, atau memperluas variasi produk.
Aturan tidak melarang pedagang berjualan di sekitar sekolah, asalkan mematuhi peraturan daerah tentang izin usaha dan kebersihan.
Indah memilih bertahan dengan cara lama, mengandalkan lokasi strategis warungnya dan pengalamannya. Di sela kesibukannya, ia masih menyempatkan diri membuat konten jalan-jalan dan lipsync di TikTok, menunjukkan semangatnya tetap terjaga meski di tengah tantangan.
Warung kecil Indah, dengan tumpukan chiki dan aroma sosis goreng yang menggoda, kini berdiri sebagai simbol ketangguhan seorang pedagang mikro. Meski MBG telah mengubah dinamika di depan SDN Tanjung, Indah terus membuka warungnya setiap pagi, menyapa anak-anak yang lewat, berharap ada yang singgah. [dm]


