INDORAYA – Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menyimpan potensi besar sebagai sentra durian berkualitas. Ratusan hektare lahan pertanian di desa ini ditanami berbagai varietas durian unggulan yang mulai menarik perhatian pasar regional hingga nasional.
Salah satu petani durian di Desa Branjang, Tumidiarso, menanam beragam jenis durian premium. Mulai dari Bawor, Monti atau yang dikenal sebagai Montong Gunungpati (lokal), Musang King, hingga Duri Hitam. Seluruh varietas tersebut telah ia tanam sejak lima tahun lalu di lahan miliknya.
Tahun ini menjadi momen penting bagi Tumidiarso. Setelah menunggu bertahun-tahun, kebun duriannya akhirnya mulai memasuki masa panen. Ia mengaku sengaja tidak hanya mengandalkan durian lokal, mengingat tingginya minat pasar terhadap varietas unggulan dengan harga jual yang lebih kompetitif.
“Durian ini saya tanam lima tahun lalu di lahan ini. Setelah kami panen, petani lain kemudian ikut menanam empat jenis durian yang sama. Kualitasnya lebih bagus dibandingkan durian lokal, harganya juga kompetitif, dan peminatnya lebih tinggi, terutama Musang King yang saat ini harganya mencapai Rp250 ribu per kilogram,” ujar Tumidiarso saat ditemui Indoraya.News di kebunnya, Minggu (18/1/2026).
Selama ini, durian yang dikenal luas oleh masyarakat Kota Semarang identik dengan durian asal Gunungpati. Namun, Tumidiarso mengungkapkan bahwa Desa Branjang justru berperan sebagai salah satu pemasok utama durian ke kawasan tersebut.
“Untuk durian lokal Branjang, pasarnya banyak di Gunungpati karena durian Branjang menjadi penyangga utama pasokan durian Gunungpati,” jelasnya.
Tak hanya memenuhi pasar lokal, durian dari kebun Tumidiarso kini juga telah menembus pasar antarkota. Produksinya dipasarkan ke berbagai kota besar di Pulau Jawa dan memiliki pelanggan tetap.
“Produksi kami sudah dipasarkan ke hampir seluruh kota besar di Jawa, dan sudah memiliki banyak pelanggan tetap,” pungkasnya.


