INDORAYA – Penanganan stunting dan gizi buruk pada balita tetap menjadi fokus utama pembangunan kesehatan di Jawa Tengah, meskipun prevalensi terus menunjukkan tren penurunan. Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mengajak seluruh pihak untuk berkolaborasi lebih intensif melalui program kesehatan dasar guna mempercepat pencapaian target nasional dan daerah.
Heri menyebut bahwa berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Jateng mencapai 17,1 persen, lebih baik dari angka nasional 19,8 persen.
“Ini capaian positif, tapi kita harus terus keroyokan karena target nasional 2025 adalah 18,8 persen, dan Jateng punya ambisi lebih rendah lagi,” ungkapnya.
Menurut Heri, program kesehatan dasar seperti penguatan puskesmas dan posyandu menjadi garda terdepan. Indikator seperti kasus gizi buruk dan stunting yang masih ada di beberapa kabupaten menuntut intervensi lebih masif, termasuk deteksi dini dan pemberian makanan tambahan.
Ia menyoroti peran Dinas Kesehatan sebagai OPD pelaksana utama dalam urusan kesehatan wajib. Kolaborasi dengan OPD lain, seperti Dinas Sosial untuk basis data terpadu dan Dinas Pertanian untuk ketahanan pangan, sangat krusial untuk menangani akar masalah seperti kemiskinan dan akses gizi.
Heri juga mengapresiasi penghargaan yang diterima Jateng dari Kemenkes atas intervensi spesifik stunting terbaik regional I pada 2025.
“Ini bukti kerja keras, tapi tantangan masih besar, terutama di wilayah dengan angka absolut tinggi sekitar 485 ribu balita stunting,” imbuhnya.

Tak hanya itu, ia juga mendorong pengoptimalan program seperti Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) dan pemberian makanan bergizi gratis yang mulai digulirkan pusat.
“Kolaborasi lintas sektor ini akan mempercepat penurunan kasus gizi buruk yang sering jadi pemicu stunting,” tegasnya.
Heri menekankan pentingnya edukasi masyarakat melalui posyandu untuk pemantauan rutin berat badan dan tinggi badan balita, serta pencegahan infeksi yang memperburuk gizi.
“DPRD akan kawal anggaran agar program kesehatan dasar ini tepat sasaran, karena stunting bukan hanya masalah gizi, tapi investasi masa depan SDM Jateng,” ujarnya.
Lebih lanjut, Heri mengajak TP PKK dan kader posyandu untuk terus aktif, mengingat peran mereka sebagai ujung tombak di tingkat desa.
Dengan kolaborasi yang solid, Heri optimis Jateng bisa mencapai target prevalensi stunting di bawah 14 persen menuju 2029, selaras dengan RPJMD dan prioritas nasional. [Adv]


