Ad imageAd image

Tekan Angka Pengangguran, Heri Pudyatmoko Dorong Penyesuaian Pendidikan dengan Dunia Kerja

Panji Bumiputera
By Panji Bumiputera 34 Views
2 Min Read
Wakil Ketua DPRD Jateng Heri Pudyatmoko

INDORAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tingkat pengangguran terbuka di Jawa Tengah pada tahun 2023 mencapai 5,13 persen. Di mana sebagian besar di antaranya merupakan kelompok generasi Z (kelahiran 1995 ke atas).

Data dari BPS itu juga menerangkan bahwa jumlah penduduk usia kerja di Jateng mencapai 29,38 persen atau naik 1,89 juta jiwa dibanding tahun 2022.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 19,99 juta jiwa penduduk bekerja dan 1,08 juta jiwa merupakan pengangguran.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko mengungkapkan, upaya strategis harus digalakkan untuk menekan angka pengangguran.

BACA JUGA:   Batik Kudus, Buah Akulturasi Budaya yang Terus Dilestarikan

“Upaya yang paling dekat dan strategis yaitu dengan meningkatkan kualitas SDM melalui lembaga pendidikan,” ungkapnya.

Ia menerangkan bahwa lembaga pendidikan harus mampu menjembatani generasi muda untuk melatih dan mengembangkan skill. Dengan begitu, kursi-kursi kosong di dunia kerja bisa terisi dengan optimal.

Di sisi lain, Heri juga menyinggung perihal lapangan pekerjaan yang minim menerima fresh graduate. Menurutnya, angka pengangguran meningkat karena perusahaan terlalu menekankan pada pengalaman kerja yang berlabel.

“Sedangkan pengalaman kerja yang dimaksud harus berlabel atau berstempel dari perusahaan sebelumnya,” ucapnya.

BACA JUGA:   FASI Kendal Ajak “Mabur” Kades Kalirejo

“Kalau sistemnya seperti itu, fresh gradate akan sulit mencari kerja dan pengangguran semakin menumpuk,” imbuhnya.

Heri Londo, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa seharusnya, pengalaman kerja itu sudah bisa terakui melalui lembaga-lembaga pengembangan di sekolah atau universitas.

“Contoh, di kampus-kampus itu kan ada banyak kelompok-kelompok yang serius dan menekuni beragam skill, mungkin itu juga harus dipertimbangkan, tentu dengan uji tes tertentu,” paparnya.

Apabila terlalu fokus dan menekankan pada stemple pengalaman di perusahaan mainstream, lanjutnya, akan menambah daftar pengangguran karena banyak lulusan yang harus banting setir.

BACA JUGA:   Segera Terapkan E-Parkir, Dishub Beri Pelatihan kepada 34 Juru Parkir

“Kebanyakan yang terjadi di lapangan saat ini, para pekerja tidak mengandalkan label ijazahnya untuk bisa bertahan di dunia kerja, melainkan pembuktian terhadap skill yang dimiliki,” tuturnya.

Sementara itu, sebagai informasi, berdasarkan status pekerjaan, tercatat pekerjaan terbanyak penduduk Jateng ialah buruh, karyawan dan pegawai yang mencapai 36,65 persen.

Adapun status berusaha sendiri mencapai 23,21 persen, dan status berusaha dibantu buruh tidak tetap/buruh tak dibayar tercatat sebesar 14,89 persen. [Adv-Indoraya]

Share this Article
Leave a comment