INDORAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan potensi hujan ekstrem, khususnya di wilayah Pantura.
Operasi ini dilakukan sebagai langkah mitigasi bencana hidrometeorologi di tengah puncak musim hujan yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026.
Pada Selasa (27/1/2026), OMC memasuki sortie ketiga. Pesawat PK-SCJ diterbangkan untuk melakukan penyemaian awan di wilayah Perairan Utara Jawa Tengah dengan membawa bahan semai Natrium Klorida (NaCl) seberat 1.000 kilogram.
Penyemaian difokuskan pada Target 1 yang berada pada radial 298 hingga 309 derajat, dengan jarak 52 sampai 82 nautical mile (nm) dari Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang.
“Area sasaran berada di perairan utara Jawa Tengah, yang secara meteorologis masih berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan,” ungkap Flight Scientist PT Makson Sukses Pratama, Fadhlan Rizakul Hafidz, Selasa (27/1/2026).
Berdasarkan hasil pengamatan selama penerbangan, penyemaian dilakukan pada awan Cumulus Congestus dengan puncak awan berada di ketinggian 14.000 hingga 15.000 kaki, serta dasar awan di kisaran 4.000 hingga 5.000 kaki. Selain itu, turut teridentifikasi awan Stratocumulus dengan puncak awan sekitar 10.000 kaki dan dasar awan pada ketinggian 6.000 kaki.
Fadhlan menjelaskan, kondisi angin pada ketinggian 10.000 hingga 11.000 kaki saat penyemaian bergerak dari arah Barat Daya hingga Barat dengan kecepatan 5 hingga 17 knot. Sementara di lapisan bawah hingga menengah, angin bergerak dari arah Barat Laut dengan kecepatan 17 hingga 25 knot.
Tim OMC juga melaporkan bahwa awan di perairan utara Jawa Tengah masih terpantau cukup masif dan berlapis. Pada ketinggian 10.000 kaki, terlihat banyak awan layering, meski pesawat masih mampu menembus hingga bagian utara awan target. Di lapisan atas, terpantau awan luruhan atau anvil yang berasal dari awan Cumulonimbus.
Menurut Fadhlan, operasi ini dilakukan untuk mengelola distribusi curah hujan agar tidak terkonsentrasi di wilayah daratan Jawa Tengah.
“Langkah ini juga bertujuan mendukung mitigasi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan genangan, terutama pada puncak musim hujan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Jawa Tengah, Bergas C Penanggungan, menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca akan terus dilaksanakan hingga 29 Januari 2026.
“Sesuai arahan Bapak Gubernur, saya sudah kontak dengan Kepala BNPB. Upaya penanganan darurat di wilayah terdampak guna pemulihan, yakni modifikasi cuaca sampai 29 Januari 2026,” kata Bergas.
Ia menjelaskan, dalam satu hari pelaksanaan OMC dapat dilakukan antara lima hingga sembilan sorti penerbangan, menyesuaikan kondisi awan dan potensi hujan yang terpantau.
Pesawat modifikasi cuaca, lanjut Bergas, dapat membawa dua jenis bahan semai, yakni kapur dan garam. Kapur digunakan untuk menahan hujan agar tidak turun di wilayah terdampak bencana, sementara garam berfungsi untuk menurunkan hujan lebih awal sebelum awan memasuki daratan.
Di sisi lain, Bergas mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, berdasarkan prediksi BMKG, puncak curah hujan diperkirakan masih berlangsung pada Januari hingga Februari 2026.


