INDORAYA – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengungkapkan, stok telur di pasaran saat ini tergolong rawan karena perhitungannya hanya cukup untuk kebutuhan dua hari.
Selain memantau harga bahan pokok di Pasar Rasamala dan Superindo Sukun Banyumanik pada Sabtu (13/12/2025), dia juga menaruh perhatian serius terhadap ketersediaan stok pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Salah satu komoditas yang menjadi sorotan adalah telur ayam.
“Telur justru lebih murah di sini. Tapi yang harus kita jaga adalah stok telur, karena kemarin dari pantauan ketahanan pangan dan dinas perdagangan, stok telur itu dihitungnya per dua hari, dan ini menurut saya agak riskan,” kata Agustina, Sabtu (13/12/2025).
Ia memastikan, secara umum ketersediaan bahan pangan di pasar tradisional masih aman. Namun, pengawasan tetap diperketat untuk mengantisipasi gangguan pasokan selama periode libur panjang.
“Kalau di sini tadi stok enggak ada masalah. Di pasar mudah-mudahan juga tidak ada masalah,” ujar Agustina.
Dia juga mengimbau pedagang agar tidak melakukan praktik penahanan barang atau menaikkan harga secara tidak wajar menjelang Nataru.
“Dengan informasi bahwa pemerintah provinsi sudah bergerak untuk mengintervensi pasar, saya kira tidak perlu ada yang meremo,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Kota Semarang masih bergantung pada pasokan bahan pangan dari luar daerah. Kemampuan produksi lokal disebut baru mampu memenuhi sekitar 11 persen dari kebutuhan pangan masyarakat.
“Kita ini lebih banyak mendapatkan pasokan pangan dari luar. Kalau Kota Semarang ini kan hanya dapat memenuhi sekitar 11 persen dari kebutuhan bahan pangan,” jelasnya.
Untuk menjaga stabilitas stok dan harga, Pemkot Semarang terus berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Jika terjadi gangguan pasokan di pasar, intervensi akan segera dilakukan.
“Kalau ada kendala mengenai stok di pasar, maka pemerintah provinsi akan mengintervensi,” katanya.
Selain pangan, Pemkot Semarang juga meningkatkan pengawasan jelang Nataru, termasuk kebersihan kota, pengelolaan sampah, parkir, keamanan, hingga pengawasan harga di kawasan wisata.
“Mudah-mudahan ini bisa menjadi awareness bagi para pelaku agar tidak melakukan hal-hal yang merugikan masyarakat,” pungkas Agustina.


