Ad imageAd image

Antisipasi Kenaikan Harga Pangan Saat Ramadan dan Lebaran, Pemerintah Diminta Segera Respon Kenaikan Harga Kedelai

Redaksi
By Redaksi 110 Views
6 Min Read
Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko.

INDORAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan pemerintah pusat diminta segera merespon terkait kenaikan harga kedelai. Hal itu disampaikan Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko, Senin (21/2/2022).

Dia berharap, pemerintah dapat menyediakan kedelai murah dan stabil selama tiga bulan mendatang. Hal itu bertujuan untuk menjaga pasokan pangan tahu dan tempe selama Ramadan hingga hari raya Lebaran.

“Tal hanya harga tempe, tapi juga harga komuditas lain seperti minyak goreng, telur dan lainnya,” kata dia.

Diketahui, sudah sebulan fluktuasi harga kedelai terjadi di Tanah Air. Kenaikan harga kedelai yang terjadi setiap hari ini membuat para pengrajin tahu dan tempe mulai kesulitan menentukan harga jual kepada konsumen.

Bahkan semakin hari keuntungan selalu berkurang hingga tak lagi bisa mengantongi keuntungan. Sebab hasil penjualan tahu dan tempe hanya cukup untuk membeli bahan baku untuk produksi berikutnya.

Memang, tidak banyak yang bisa dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga kedelai. Mengingat kedelai merupakan komoditas impor yang harganya ditentukan oleh pasar bebas.

Namun, hal itu tidak berarti pemerintah tidak bisa mengambil tindakan strategis atau mencarikan solusi. Ada beberapa hal yang menurutnya bisa dilakukan pemerintah, di antaranya dengan memberikan subsidi kepada para pengrajin tahu dan tempe.

BACA JUGA:   Guru Honorer Yang Tak Lolos PPPK Tahun Lalu Akan Diprioritaskan Masuk PPPK Tahun 2022

Hal ini sebagai upaya untuk mencegah para pengrajin mogok produksi. Mengingat tahu dan tempe merupakan sumber alternatif protein yang terjangkau bagi masyarakat kelas bawah.

“Cari jalan keluarnya, misal kasih subsidi karena tahu tempe ini alternatif protein yang paling terjangkau lapisan masyarakat ke bawah,” katanya.

Sebagai informasi, harga kedelai di seluruh wilayah Jawa Tengah naik sejak sebulan lalu, dari harga normal Rp 8.000/kg sampai Rp 9.000/kg, naik Rp 10.000/kg dan kini menjadi Rp 11.000 hingga Rp 11.500 per kilogram.

Mahfud Saefudin, perajin tahu dan tempe di Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon, Kendal mengatakan, sejak harga kedelai naik, ia tidak menaikkan harga maupun mengurangi ukuran tahu tempe yang dijualnya. Diakuinya para pelanggan tidak mau jika harga tahu dan tempe naik.

“Kami tidak bisa menaikkan harga tempe tahu karena para pelanggan tidak mau harga dinaikkan,” keluh Mahfud, baru-baru ini.

Sejak harga kedelai melejit, omzetnya dan banyak perajin tahu tempe lainnya yang turun. Dari semula berproduksi 1 ton lebih, sekarang rata-rata kurang dari 1 ton. Ia berharap, pemerintah bisa menekan harga kedelai, agar para pembuat tempe dan tahu bisa kembali berproduksi secara normal.

“Berat sekali masalah harga itu, terlalu tinggi buat UMKM seperti kita. Omzet menurun,” lanjutnya.

BACA JUGA:   Pasar Semawis Kembali Dibuka, Antusias Masyarakat Melebihi Harapan

Merespon kenaikan harga kedelai, pengrajin tahu dan tempe mulai Senin (21/2/2022) rencananya akan menggelar aksi mogok produksi hingga Rabu 23 Februari mendatang. Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin meminta, agar pemerintah dapat memberikan solusi bagi para perajin tahu dan tempe untuk menekan harga kedelai yang terus mengalami sejak akhir tahun lalu.

“Harga kedelai saat ini Rp 11.500 per kg. Harga jual tempe Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per 500 gram, atau antara Rp 10.000 hingga Rp 12.000 per kg. Jadi sudah pasti rugi. Karena ada biaya produksi (dimasak, rendam, minyak atau gas, makan dan lain-lain),” kata Aip.

Aip menegaskan, nantinya para perajin tahu dan tempe akan mogok produksi pada 21 hingga 23 Februari 2022 mendatang secara serentak di seluruh Tanah Air karena kerugian yang dialami selama ini.

Aip berharap setelah mogok produksi, harga kedelai bisa turun kembali di bawah Rp 10.000 per kilogram. “Rp 10.000 per kg maksimal,” pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi menyatakan, naiknya harga kedelai di Indonesia karena adanya beberapa permasalahan dari negara importir yang salah satunya adalah cuaca buruk El Nina di kawasan Amerika Selatan.

BACA JUGA:   Cegah Stunting, Anggota DPRD Kota Semarang Berikan Materi Happy Parenting Bersama Disdik

Dia mengatakan, harga kedelai per gantang yang sebelumnya 12 dollar Amerika Serikat (AS) naik menjadi 18 dollar AS per gantang. Naiknya harga kedelai, selain dari dampak cuaca buruk El Nina di Argentina dan kawasan Amerika Selatan yang menjadi negara pengimpor itu, juga dipengaruhi oleh kebutuhan besar di Cina.

Ia menyatakan jika baru-baru ini, di Cina ada lima miliar babi baru yang semuanya pakannya adalah kedelai. “Di Cina itu, awalnya peternakan babi di sana tidak makan kedelai, tapi sekarang makan kedelai. Apalagi baru-baru ini ada lima miliar babi di peternakan Cina itu makan kedelai,” katanya.

Lutfi menerangkan, jika saat ini pihaknya sementara menyiapkan mitigasi dari melambungnya harga kedelai secara nasional. “Sekarang ini kami sedang menyiapkan mitigasinya dan kesempatan pertama minggu depan akan kami umumkan kebijakannya seperti apa,” terangnya.

Ia juga menyampaikan kebutuhan kedelai dalam negeri setiap tahunnya adalah 3 juta ton, sementara budi daya dan suplai kedelai dalam negeri hanya mampu 500 hingga 750 ton per tahunnya. Sementara untuk menutupi kebutuhan nasional akan kedelai itu, pihaknya kemudian melakukan impor dari beberapa negara seperti negara dari kawasan Amerika Selatan tersebut.(Advetorial-IR)

Share this Article