INDORAYA – Kota Semarang, Jawa Tengah dihebohkan dengan beredarnya video yang memperlihatkan tiga unit ambulans dan satu mobil pikap layanan logistik terparkir di kawasan permukiman Kecamatan Semarang Barat. Kendaraan-kendaraan tersebut diduga menjadi korban order fiktif yang berkaitan dengan aksi teror penagihan pinjaman online (pinjol).
Video tersebut viral setelah diunggah akun Instagram @informasi.semarang. Dalam unggahan itu disebutkan, kendaraan-kendaraan tersebut sengaja dipesan oleh pihak tak bertanggung jawab dan diarahkan ke satu titik lokasi yang sama.
Modus yang digunakan diduga dengan memesan layanan ambulans dan jasa pengiriman barang, lalu menjebak para pengemudi melalui order palsu. Aksi ini memunculkan dugaan kuat adanya intimidasi oleh oknum debt collector pinjol terhadap penghuni rumah di lokasi tujuan.
“Sesampainya di lokasi, saat nomor pemesan dikonfirmasi, justru muncul ancaman agar penghuni rumah segera melunasi utang,” tulis akun tersebut dalam unggahannya, Selasa (3/2/2026).
Salah satu admin Ambulans Antasena, Aldy (25), membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia mengungkapkan insiden itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB dan bermula dari pesanan pengantaran pasien kontrol yang masuk atas nama Adi Prasetya.
“Penelepon mengaku butuh ambulans untuk mengantar pasien dari Jalan Puspowarno ke Rumah Sakit Columbia Asia,” ujar Aldy saat dikonfirmasi.
Menurutnya, pemesan terlihat meyakinkan karena mengirimkan data pasien secara lengkap, mencantumkan nama pemilik rumah, hingga membagikan titik lokasi melalui fitur share location WhatsApp.
Tanpa menaruh kecurigaan, pihak ambulans langsung merespons dan meluncur ke alamat tujuan, yakni rumah seorang perempuan bernama Lia.
Namun, setibanya di lokasi, situasi justru janggal. Tidak ada warga yang merasa memesan layanan ambulans.
“Kita bertemu dengan Mbak Lia, katanya dia tidak sakit,” ungkap Aldy.
Kemudian saat nomor pemesan kembali dihubungi, jawaban yang diberikan justru semakin tidak masuk akal.
“Jawabannya cuma bilang ‘itu kakak saya’,” lanjutnya.
Pemilik rumah bahkan mengaku sehari sebelumnya kediamannya juga didatangi sejumlah kendaraan jasa pengiriman akibat order fiktif serupa.
Aldy kemudian menghubungi rekan-rekan ambulans lain dan kembali mencoba menelepon nomor pemesan. Kali ini, ancaman disampaikan secara terang-terangan.
“Jawabannya malah bilang, ‘suruh ngelunasin dulu utangnya Rp14 juta. Kalau enggak, nanti saya panggil damkar’,” katanya.
Aldy menyebut, insiden ini tidak hanya menimpa Ambulans Antasena. Dua ambulans lain milik rekan-rekannya turut menjadi korban pesanan palsu di lokasi yang sama. Selain itu, satu mobil layanan logistik juga diketahui mengalami hal serupa.
Order fiktif tersebut membuat pihak ambulans mengalami kerugian, baik dari sisi bahan bakar maupun tenaga. Sebab, sebagai layanan ambulans swasta, pembayaran baru diterima setelah tugas selesai, sementara setiap panggilan darurat harus tetap direspons dengan cepat.
“BBM pakai uang pribadi. Kondisi lagi sepi order, tapi tetap berangkat karena mikirnya ada pasien,” ujarnya.
Untuk layanan ambulans dalam kota, Aldy menyebut tarif pulang-pergi berkisar Rp400.000 hingga Rp500.000, sementara satu kali perjalanan sekitar Rp350.000.


