INDORAYA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang menindaklanjuti dugaan keracunan yang dialami puluhan siswa SMK Negeri 11 Semarang usai menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tindak lanjut dilakukan dengan turun langsung ke lapangan pada Jumat (9/1/2026).
Dalam penanganan kasus tersebut, Dinkes tidak bergerak sendiri. Pemeriksaan dilakukan bersama petugas puskesmas setempat serta pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pudak Payung IV selaku penyedia MBG.
Dari hasil peninjauan di lapangan, ditemukan sejumlah Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tidak dijalankan sesuai ketentuan.
“Tadi sudah ditengok kawan-kawan dari Dinas Kesehatan, dari Puskesmas, dari SPPG Pudak Payung IV. Itu ada beberapa SOP yang tidak dilakukan dengan tepat,” kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Mochammad Abdul Hakam saat dihubungi wartawan, Sabtu (10/1/2026).
Menurut Hakam, setiap SPPG wajib menjalankan sekitar 12 SOP dalam pelaksanaan program MBG. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan pascakejadian dugaan keracunan di SMK Negeri 11 Semarang, ditemukan sejumlah SOP yang tidak dijalankan secara optimal.
Saat ditanya lebih lanjut mengenai SOP apa saja yang dilanggar dari total 12 SOP tersebut, Hakam belum memberikan penjelasan secara rinci.
“Jadi kan setiap SPG itu harus menjalankan kira-kira 12 SOP. Nah, itu temuan dari kawan-kawan tadi itu ada beberapa yang tidak dilakukan dengan tepat,” lanjutnya.
Meski demikian, Hakam menyampaikan bahwa pada Jumat kemarin pihaknya telah mengambil sejumlah sampel dari SPPG untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab dugaan keracunan yang dialami para siswa.
“Kita juga belum tahu indikasinya ini berasal dari mana, apakah itu produk makanan atau sumber air. Semua yang berhubungan dengan produk mereka baru kita lakukan pemeriksaan hari ini. Hari ini masuk ke laboratorium,” ujarnya.
Hakam menambahkan, SPPG penyedia MBG di SMK Negeri 11 Semarang sebenarnya telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Namun, ia menegaskan perlunya pengawasan yang lebih ketat agar kejadian serupa tidak terulang.
“SLHS-nya sudah keluar. Ini yang perlu ada pengawasan yang lebih ketat lagi, baik dari Dinas Kesehatan ataupun kawan-kawan koordinator dari SPPG. (SPPG milik siapa?) Yayasan apa saya kurang hafal,” ungkapnya.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 75 siswa SMK Negeri 11 Semarang diduga mengalami keracunan setelah menyantap MBG. Informasi tersebut mencuat melalui pesan dan foto yang beredar di grup WhatsApp, yang menyebutkan para siswa tengah menjalani pemeriksaan pascainsiden di sekolah.
Dalam pesan yang beredar, disebutkan lima siswa harus dirawat di RS Hermina, sementara 70 siswa lainnya mengalami muntah-muntah.
“Investigasi keracunan pangan di SMK Negeri 11 Semarang,” bunyi pesan di grup WhatsApp yang dilihat Indoraya.News, Jumat (9/11/2026).
Plt Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Wilayah 1 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Haris Wahyudi, membenarkan adanya dugaan keracunan tersebut. Ia menyebut peristiwa itu terjadi pada Kamis (8/1/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.
“Itu kejadian kemarin, habis mendapat MBG. Sorenya sekitar pukul 16.00 WIB ada siswa yang mengalami gejala mual-mual kemudian pusing seperti itu,” ungkap Haris kepada awak media, Jumat (9/1/2026).
Berdasarkan laporan yang diterima, sebanyak 75 siswa melaporkan keluhan kesehatan. Hingga saat ini, masih ada siswa yang menjalani perawatan di RS Hermina Banyumanik, Semarang.
“Dari 75 anak yang melapor, itu ada yang dirawat di rumah sakit 4, udah pulang masih dua dan dua masih dirawat. Kemudian yang lain tidak apa-apa,” katanya.
“Itu satu karena ada penyakit bawaan, yang satu masih diobservasi,” tambahnya terkait kondisi siswa yang masih dirawat.


