Ad imageAd image

Sejarah Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti, Tempat Singgah Bhikkhu Thudong

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 934 Views
3 Min Read
Bikkhu Thudong saat berada di Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti, di Bukit Kassapa, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang, Kamis (16/5/2024). (Foto : Dickri Tifani Badi/Indoraya)

INDORAYA – Puluhan bhikkhu thudong dari sejumlah negara yakni Indonesia, Thailand, Malaysia dan Singapura, melakukan bersih-bersih hingga puja Samadi di Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti, Bukit Kassapa, Pudakpayung, Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng) sejak Rabu (15/5) malam hingga Kamis (16/5) pagi.

Hal ini bukan tanpa alasan mereka singgah di vihara tersebut. Selain punya suasana menenangkan lantaran lokasinya berada di lembah dan bukit, ternyata juga memiliki sejarah panjang penyebaran agama Buddha di Indonesia.

Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti sendiri merupakan titik mula dengan pertimbangan bahwa di vihara inilah untuk pertama kalinya 1berdiri Sima pada 1959 silam.

Sima adalah tempat khusus upasampada (pengukuhan) bhikkhu baru. Di Sima inilah untuk pertama kalinya di Tanah Air dilaksanakan upasampada bhikkhu sesudah ratusan tahun rubuhnya Wilwatikta-Majapahit.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan ritual suci ritual suci Buddha menjadi kebanggaan sekaligus kehormatan tersendiri bagi warga Kota Semarang. Sebab, Kota Atlas sebagai tuan rumah event Bhikkhu Thudong Internasional 2024.

Sehingga, Mbak Ita sapaan akrabnya, bakal menganggas Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti, Bukit Kassapa sebagai wisata religi.

“Kita jadi tahu Kota Semarang menjadi jejak agama Buddha kita segera melakukan program-program atau pelaksanaan di sini agar menjadi tempat untuk wisata religi,” ujar Mbak Ita seusai melepas puluhan bhikkhu thudong.

Ke depan, pihaknya segera memperbaiki fasilitas keagamaan yang ada di Vihara Sima 2500 Buddha Jayanti. Pasalnya tempat itu dibangun oleh bhikkhu dari 13 negara.

“Sehingga ini harus menjadi program yang lebih baik untuk menjadi satu tujuan para bhikkhu beribadah di sini, termasuk mendorong menjadi agenda tahunan dan diintegrasikan dengan kegiatan lain,” pintanya.

Mbak Ita mengapresiasi seluruh masyarakat Kota Semarang yang menyambut baik kedatangan bhikkhu thudong. Termasuk dari pihak TNI, Polri, umat lintas kepercayaan dan agama serta sejumlah sukarelawan.

“Penyambutan yang luar biasa ini menunjukkan tingginya toleransi di Ibu Kota Jawa Tengah. Seperti yang dirilis Yayasan Setara bahwa Kota Semarang menduduki peringkat ke lima sebagai daerah tertoleran di Indonesia,” kata Mbak Ita.

Sementara itu, Ketua Sangha Agung Indonesia Bhikkhu Khemacaro Mahathera mengatakan ritual thudong adalah proses spiritual bhikkhu menjalankan hidup berjalan.

“Berangkat dari sini karena di sini cikal bakal buddhism di Indonesia setelah Indonesia merdeka. Ini sudah dikenal 13 negara, tetapi kami baru menggali empat tahun lalu,” katanya.

“Mereka ingin mengirim pesan bahwa di Indonesia sangat ramah dan mendoakan supaya Indonesia tetap seperti ini, maju dan toleransi di kemudian hari,” ujarnya.

Share this Article
Leave a comment