INDORAYA – Klenteng Hwie Wie Kiong di kawasan Pecinan Semarang menyimpan keistimewaan yang tak banyak dimiliki bangunan bersejarah lain di Kota Semarang. Selain usianya yang telah mencapai ratusan tahun, klenteng ini dikenal dengan arsitektur khas Tiongkok kuno yang dibangun tanpa menggunakan paku besi dan sarat nilai filosofi.
Klenteng yang terletak di Jalan Sebandaran ini diperkirakan berdiri pada abad ke-17 hingga ke-18, sekitar tahun 1809. Sejak awal pendiriannya, bangunan ini difungsikan sebagai tempat ibadah dan awalnya merupakan klenteng pribadi milik Marga Tan.
Mantan Ketua sekaligus penasihat pengurus Klenteng Hwie Wie Kiong, Hadi Winarta, mengatakan klenteng ini baru dibuka untuk umum setelah tahun 1985.
“Dulu klenteng ini khusus untuk Marga Tan. Baru setelah 1985 dibuka untuk masyarakat umum,” ujar Hadi.
Menurut Hadi, Klenteng Hwie Wie Kiong memuliakan sosok dewa yang dikenal bijaksana. Nilai kebijaksanaan itu tercermin dalam ajaran hidup yang menekankan sikap arif, kepedulian sosial, serta membantu sesama tanpa memberatkan pihak lain.
Filosofi tersebut pula yang mendorong pengurus membuka klenteng bagi masyarakat luas. Kini, klenteng tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang pembelajaran budaya bagi siapa saja yang ingin mengenal warisan Tionghoa di Semarang.
Keistimewaan Klenteng Hwie Wie Kiong juga tampak jelas dari sisi arsitekturnya. Hampir seluruh bagian bangunan dipenuhi ukiran khas Tiongkok dengan detail yang rumit dan halus. Teknik konstruksi bangunan ini bahkan tidak menggunakan paku besi sama sekali, melainkan memanfaatkan sistem sambungan tradisional dengan tusukan bambu.
“Bangunan ini dibuat tanpa paku. Sambungannya memakai teknik tradisional,” jelas Hadi.
Tak hanya itu, seluruh ukiran klenteng dikerjakan langsung di Tiongkok dan kemudian dibawa ke Nusantara menggunakan kapal. Hal tersebut menjadikan Klenteng Hwie Wie Kiong sebagai bukti nyata hubungan budaya dan perdagangan masa lampau antara Tiongkok dan Semarang.
Ciri arsitektur Tiongkok Selatan terlihat pada bentuk atap dengan bubungan menyerupai ekor walet. Di bagian depan klenteng, terdapat sepasang patung Shi Zi atau singa jantan dan betina yang melambangkan keharmonisan sekaligus penjaga spiritual. Ornamen naga dan ukiran lainnya dipercaya mengandung doa serta harapan akan keberkahan dan perlindungan.
Meski telah berusia ratusan tahun, Klenteng Hwie Wie Kiong masih mempertahankan banyak bagian asli bangunannya. Renovasi dilakukan secara terbatas untuk menjaga keamanan dan fungsi.
Tercatat, klenteng ini telah menjalani tiga kali renovasi besar, yakni pada 1995–1996 di bagian belakang, 2009–2010 di bagian depan, serta pada 2022 pascapandemi dengan penggantian tiang depan menggunakan material beton.
Namun demikian, keberlangsungan pengelolaan klenteng juga menghadapi tantangan. Sejak pandemi Covid-19, regenerasi pengurus belum berjalan optimal karena minimnya generasi baru yang aktif terlibat.
Saat ini, Klenteng Hwie Wie Kiong menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan di kawasan Pecinan Semarang. Pengunjung tidak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga untuk menikmati keindahan arsitektur serta mempelajari sejarah komunitas Tionghoa di Kota Semarang.
“Ukiran di klenteng ini bisa dibilang yang paling bagus di Semarang,” kata Hadi.
Dengan dibukanya akses bagi masyarakat umum tanpa dipungut biaya masuk, Klenteng Hwie Wie Kiong hadir sebagai destinasi wisata edukatif yang memadukan sejarah, seni, dan nilai kebijaksanaan di tengah dinamika kota modern.


