Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Satu Barisan untuk Kaderisasi
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Opini

Satu Barisan untuk Kaderisasi

By Redaksi
Senin, 12 Jan 2026
Share
4 Min Read
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). (Foto: Dok. Antara)
SHARE

INDORAYA – HMI Cabang Sukoharjo hari ini harus berani jujur pada dirinya sendiri. Kita tidak sedang berada dalam kondisi yang sepenuhnya sehat.

Kita merasakannya di komisariat, di ruang-ruang Latihan Kader, dan terutama setelah kader dinyatakan “lulus” tetapi dibiarkan berjalan tanpa arah. Ada kegelisahan yang tumbuh diam-diam, ada kader yang bertahan karena cinta, tetapi tidak sedikit yang pergi karena kecewa.

Di komisariat, kita melihat semangat kaderisasi yang timpang. Ada komisariat yang merasa berjalan sendiri, jauh dari perhatian cabang. Ada kader yang hadir penuh idealisme, tetapi kehilangan ruang untuk tumbuh. HMI yang seharusnya menjadi rumah pembelajaran, perlahan terasa sebagai ruang administratif, hidup di agenda kegiatan saja, tetapi kering dalam pendampingan.

Dalam Latihan Kader, kita terlalu sering puas pada formalitas. Materi selesai, sertifikat dibagikan, tetapi kesadaran ideologis tidak selalu mengakar. Lebih menyakitkan lagi, pasca-LK sering menjadi ruang hampa.

Kader yang seharusnya disambut, diarahkan, dan dikonsolidasikan, justru dibiarkan mencari jalannya sendiri. Inilah luka kaderisasi yang jarang kita akui, tetapi dampaknya nyata.

Filsuf asal Jerman, Nietzsche, mengingatkan bahwa nilai akan mati ketika ia dijalani tanpa kesadaran. Dan HMI hari ini harus bertanya pada dirinya sendiri: apakah kita sedang membentuk kader yang sadar, atau hanya kader yang patuh pada mekanisme?

Budaya senioritas yang seharusnya melahirkan keteladanan, kadang berubah menjadi alat pembungkaman. Pendapat kader muda dipatahkan bukan oleh argumen, tetapi oleh posisi. Forum-forum yang seharusnya mendidik keberanian berpikir, justru melatih ketakutan untuk berbeda.

Kita harus berani mengatakan: HMI tidak boleh membesarkan kader yang diam karena takut, tetapi kader yang kritis karena sadar.

Dalam situasi ini, kader perempuan sering kali menanggung beban berlapis. Bukan karena kurang kapasitas, tetapi karena ruangnya dipersempit oleh cara pandang lama. Masih ada bisik-bisik yang meragukan, masih ada standar ganda dalam menilai kepemimpinan. Padahal kaderisasi sejati adalah kaderisasi yang adil yang memberi ruang setara bagi siapa pun yang berkomitmen dan berintegritas.

Franz Magnis-Suseno menegaskan bahwa etika organisasi tidak diukur dari seberapa kuat kekuasaannya, tetapi dari seberapa manusiawi relasi di dalamnya. HMI Cabang Sukoharjo tidak boleh menjadi organisasi yang kuat ke luar tetapi rapuh ke dalam. Tidak boleh lantang berbicara keadilan, tetapi abai pada keadilan internalnya sendiri.

Soe Hok Gie pernah menulis bahwa organisasi yang besar adalah organisasi yang berani mengoreksi dirinya sendiri, meski harus melawan kebiasaan lama. Maka hari ini, kita tidak sedang mencari siapa yang menang, tetapi apa yang harus diselamatkan. Dan yang harus diselamatkan adalah kaderisasi—sebagai jantung, sebagai ruh, sebagai masa depan HMI Cabang Sukoharjo.

Kita menawarkan kepemimpinan kolektif yang memulihkan. Kepemimpinan yang mengembalikan komisariat sebagai basis kaderisasi, memperbaiki kualitas LK sebagai ruang kesadaran, memastikan pasca-LK sebagai ruang aktualisasi, menata ulang relasi senior-junior agar lebih etis dan mendidik, serta membuka ruang setara bagi kader perempuan untuk tumbuh dan memimpin.

Kemenangan ini bukan kemenangan individu. Ini adalah kemenangan kader komisariat yang ingin diperhatikan. Kemenangan kader pasca-LK yang ingin diarahkan. Kemenangan kader muda yang ingin berbicara tanpa takut. Dan kemenangan kader perempuan yang ingin dipercaya tanpa syarat.

Mari kita sudahi fragmentasi. Mari kita rapatkan barisan. Mari kita kembalikan HMI Cabang Sukoharjo sebagai rumah kaderisasi yang hangat, adil, dan berani.

Hari ini, kita memilih untuk bersatu. Kita memilih untuk mengesampingkan segala kepentingan selain kepentingan kaderisasi. Dan kita memilih untuk menyelamatkan masa depan HMI Cabang Sukoharjo—bersama, sebagai satu barisan.

Penulis: Arina Nur Azizah, Kader HMI Cabang Sukoharjo

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Gojek Gandeng Dinkes Semarang, Latih Driver Siap Tanggap Darurat di Jalan Minggu, 08 Feb 2026
  • Pemilu 2029 Masih Jauh, Bawaslu–DPRD Semarang Pasang Kuda-Kuda Cegah Pelanggaran Minggu, 08 Feb 2026
  • Jadi Ahli di Singapura hingga AS, Ini Rekam Jejak James Purba sebagai Ahli Kepailitan Minggu, 08 Feb 2026
  • Perkuat Rantai Pasok Ekonomi Lokal, Heri Pudyatmoko Ajak Kolaborasi Semua Pihak Minggu, 08 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko: Perlindungan Perempuan dan Anak di Jawa Tengah Harus Lebih Terintegrasi Minggu, 08 Feb 2026
  • Cegah Kekerasan, Wagub Jateng Minta Fungsi UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Dioptimakan Minggu, 08 Feb 2026
  • Heri Pudyatmoko Ingatkan Pentingnya Indikator Kesejahteraan Non-Angka Makro Minggu, 08 Feb 2026

Berita Lainnya

Opini

Humor Sebagai Jalan Tikus di Tengah Kebuntuan

Senin, 05 Jan 2026
Opini

Sisi Lain Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Membaca Sosok Mami Louisse

Jumat, 02 Jan 2026
Opini

Dahsyatnya Menyambung “Shilaturrahiim”

Jumat, 02 Jan 2026
Opini

Mahasiswa dan Transaksi Non Tunai: Gaya Hidup Cashless di Lingkungan Kampus

Rabu, 10 Des 2025
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?