INDORAYA – Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Jawa Tengah tengah melakukan evaluasi standar operasional prosedur (SOP) penyediaan makanan buntut kasus dugaan keracunan yang dialami oleh ratusan siswa di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan.
Sekretaris Satgas MBG Jawa Tengah, AR Hanung Triyono mengatakan, dapur MBG di Grobogan saat ini dihentikan sementara operasionalnya. Satuan Pelayanan Pemenuhan Giz (SPPG) tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium sebelum kembali beroperasi.
“Yang terakhir masih ada beberapa yang dirawat di rumah sakit, tapi sudah tertangani. Operasional dapur memang ditutup sementara sambil menunggu hasil lab dan pembenahan SOP serta sistemnya,” kata dia saat ditemui di Kota Semarang, Kamis (15/1/2026).
Dikatakan dia, dari hasil evaluasi awal, dugaan penyebab keracunan mengarah pada bahan makanan, salah satunya telur yang dimasak kurang sempurna.
“Kelihatannya karena bahan, misalnya telur yang proses memasaknya tidak sempurna. Itu yang nanti kami perbaiki,” ujar Hanung.
Dia menegaskan, Satgas MBG menerapkan sanksi secara bertahap terhadap pengelola SPPG atau dapur MBG. Sanksi awal berupa teguran, namun bisa meningkat hingga penutupan permanen apabila pelanggaran SOP terus berulang.
“Kalau sanksi, teguran pasti ada. Tapi kalau tidak mengindahkan SOP, bisa sampai ditutup permanen,” tegasnya.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada SPPG di Jawa Tengah yang dikenai sanksi penutupan permanen. Seluruhnya masih dalam proses pembinaan dan pengawasan ketat.
Menanggapi keluhan masyarakat soal kualitas dan variasi menu MBG, Hanung memastikan menu yang disajikan telah melalui kajian ahli gizi dan uji kelayakan.
“Menu itu sudah disetujui ahli gizi dan diuji tim. Secara kelayakan sudah bagus. Soal selera memang bisa berbeda-beda,” jelasnya.
Satgas MBG Jawa Tengah juga mencatat capaian pembangunan SPPG hampir mencapai target. Yakni sudah 94 persen dari target pembangunan SPPG.
“Sekarang sudah hampir 3.000 atau sekitar 94 persen. Kendalanya biasanya karena lokasi tidak memenuhi syarat sanitasi,” pungkas Hanung.


