INDORAYA – Sejumlah 1.144 santri Pondok Pesantren Sunan Giri Krasak Ledok Argomulyo Salatiga Jawa Tengah mengikuti acara karnaval budaya yang mengangkat tema Merawat Keberagaman Budaya di Kota Toleransi, pada Minggu (18/01/26) siang.
Ribuan santri itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang mengenyam pendidikan di bawah naungan Yayasan Sunan Giri Salatiga. Mulai dari tingkat TPQ, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), SMP, Madrasah Aliyah (MA), dan yang hanya mondok saja.
Kegiatan karnaval atau pawai ta’aruf santri sendiri dilakukan setiap tahun sekali yang menandai berakhirnya tahun kegiatan belajar dan mengajar di lingkungan Pondok Pesantren Sunan Giri Salatiga.
Ketua Panitia, Muhammad Khoirul Umam mengatakan, pawai ta’aruf kali ini sengaja mengangkat tema merawat kebudayaan mengingat belakangan ada banyak kebudayaan-kebudayaan adiluhung yang dimiliki bangsa ini tergerus oleh arus globalisasi.
“Tidak sedikit Gen Z yang tidak lagi mengenal kebudayaan bangsanya sendiri. Mereka lebih dekat dengan budaya-budaya pop Korea yang diserap melalui tontonan dan musik yang berkembang. Karena itu, kita sebagai santri perlu memperkenalkan dan merawat kebudayaan yang dimiliki bangsa ini, khususnya di Kota Salatiga,” paparnya.
Lebih jauh Umam menjelaskan, para peneliti pondok pesantren banyak berkesimpulan bahwa kiai menjadi penyaring kebudayaan luar yang hendak masuk ke dalam.
Oleh karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang menjadi kekhasan bangsa harus turut serta bertanggungjawab dalam melakukan penyaringan kebudayaan luar di satu sisi, dan merawat serta memperkenalkan kebudayaan-kebudayaan bangsa ini di sisi lain.
Karnaval budaya ini berlangsung di halaman Pondok Pesantren Sunan Giri Salatiga dan berjalan mengitari jalan Kecamatan Tingkir itu. Pada momen ini, para santri mengenakan berbagai macam baju adat Nusantara, tarian dan musik tradisional, dan berbagai macam kesenian lainnya yang menggambarkan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
Beragam Budaya di Salatiga
Kota Salatiga sendiri tidak hanya dikenal kota dengan beragam agama, tapi juga kaya akan budaya. Kebudayaan di Kota Salatiga sebagaimana di kota lainnya mengalami dinamikanya tersendiri seiring dengan masuknya kebudayaan-kebudayaan luar dan kemajuan teknologi informasi.
Kendati demikian, kota yang luasnya hanya 54,98 km persegi ini dihuni oleh beragam agama, suku, dan budaya.
Salah satu yang menjadi kekhasan budaya lokal Kota Salatiga di bidang musik yaitu drumblek, musik yang berasal dari barang-barang bekas seperti kaleng, jembung air, dan tong. Peralatan musik yang sangat sederhana namun sangat merdu ini dalam Karnaval Santri Pondok Pesantren Sunan Giri dimainkan para santri tingkat SMP dengan terampil.
“Di Pesantren Sunan Giri Salatiga, para santri tidak hanya belajar mengaji, tapi mereka juga mempelajari kesenian. Seni bagi santri itu bagian dari media dakwah. Karena itu di sini para santri diharapkan bisa memadukan antara seni budaya dan agama supaya menjadi indah serta maslahah,” ungkap Umam.


