Ad imageAd image

Respon soal Orang Tua Tolak Anaknya Divaksin Polio, Wali Kota Semarang: Wajar

Dickri Tifani
By Dickri Tifani 736 Views
5 Min Read
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu. (Foto: Pemkot Semarang)

INDORAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang merespon adanya sejumlah orang tua yang enggan mengikutsertakan anaknya menerima imunisasi polio. Pemkot terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi terhadap para orang tua terkait pentingnya vaksin polio bagi anak-anak.

Sebagai informasi, penolakan sebagian orang tua enggan mengikutsertakan anaknya menerima vaksin itu terjadi di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Rowosari, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jateng.

Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengatakan penolakan yang dilakukan warga dinilai wajar. Hal ini dimungkinkan karena kurangnya sosialisasi.

“Wajar ya (jika ada yang menolak-red), mungkin ada yang belum tersosialisasikan,” kata Ita, sapaan akrabnya seusai menyerahkan sertifikat program pendaftaran tanah sistematis lengkap (PTSL) di Universitas PGRI Semarang, Rabu (17/1/2024).

Dia menuturkan sosialisasi vaksinasi polio oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus dilakukan secara masif. Kendati di lapangan ada yang menolak, pihaknya akan melakukan pendekatan secara persuasif.

“Saya akan coba kalau dari Dinas Kesehatan Kota Semarang belum bisa akan kami lakukan pendekatan lebih dalam,” katanya.

BACA JUGA:   Derby PSIS Semarang vs Persis Solo Digelar Tanpa Penonton

Termasuk, pihaknya akan mencari tahu penyebab penolakan itu terjadi. “Ini serentak melakukan vaksinasi, saya belum tahu mengapa melakukan penolakan. Ini sebenarnya untuk kebaikan anaknya dari virus polio,” ujarnya.

Wali Kota Semarang perempuan pertama itu tak ingin terjadi persoalan di kemudian hari yang tak diinginkan. Seperti yang terjadi satu kasus positif polio di Kabupaten Klaten karena kurang lengkapnya mendapatkan imunisasi.

“Sudah ada kasus di kabupaten lainnya di Jawa Tengah. Kalau nanti terjadi apa-apa yang disalahkan pemerintah. Kalau Kota Semarang sementara belum ada kasus,” katanya.

Sebelumnya diberitakan Indoraya, Program Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) polio secara serentak dimulai pada 15 Januari 2024. Namun dalam pelaksanaannya, sejumlah orang tua di Kota Semarang justru menolak jika anaknya diberikan imunisasi polio.

Dari sejumlah Puskemas di Semarang yang menggelar program ini, Puskesmas Rowosari di Kecamatan Tembalang mengalami kendala sejumlah orang tua yang menolak vaksin imunisasi polio pada anak.

Menurut pengakuan Kepala Pukesmas Rowosari, Mukti Setiawan, sejumlah orang tua di kelurahannya menolak vaksin polio. Meskipun pihaknya sudah memberikan edukasi tentang polio, masih ada orang tua yang tidak setuju anaknya imunisasi.

BACA JUGA:   Pemkot Semarang Dorong UMKM Segera Urus Sertifikat Halal

“Memang benar, beberapa guru mengatakan ada orangtua yang menolak diimunisasi. Dan kita buatkan form tanda tangan penolakan kepada orangtuanya karena tetap tidak mau meski sudah kami beri edukasi,” katanya saat dihubungi Indoraya.news, Rabu (17/1/2024).

Mukti menuturkan, penolakan itu terjadi pada hari ke dua atau Selasa (16/1/2024). Sementara pada hari pertama prosesnya berjalan lancar atau tidak ada penolakan dari orang tua anak.

“Sampai hari ke dua ini ada dua orangtua yang menolak, kemarin enggak ada pas hari pertama. Alasan mereka menolak imunisasi karena semacam aliran. Mereka (orang tua yang menolak) mengaku anaknya tidak butuh vaksin dan tetap sehat tanpa vaksin,” beber dia.

Mukti mengaku tidak tahu aliran apa yang membuat sejunlah orang tua menolak anaknya ikut imunisasi. Dia juga tidak tahu apakah itu berkaitan dengan doktrin yang menyebut bahwa vaksinasi hukumnya haram.

BACA JUGA:   866 Pejabat Fungsional Pemprov Jateng Dilantik, Diminta Tidak Korupsi dan Beri Pelayanan Terbaik

“Enggak tahu saya. Tapi lingkungan kami memang ada seperti itu dan banyak sih. Dan rata-rata hanya 95 persen yang mau,” ungkap Mukti.

Selain penolakan karena aliran, kendala kedua yakni ada anak yang sakit sehingga tidak bisa diimunisasi. Namun, ia memberi opsi lain berupa pelahanan di jam khusus bagi mereka yang tidak bisa diimunisasi karena sakit.

“Dan yang belum divaksin ini bukan menolak ya. Mereka lagi sakit makanya enggak bisa divaksin. Jadi nanti bisa datang ke layanan kesehatan pas sudah sembuh untuk diimunisasi,” kata Mukti.

Di tempat lain seperti di Pukesmas Pandanaran, kendala yang dialami hanya pada anak yang sakit sehingga tidak bisa diimunisasi. Namun jumlah anak sakit itu tidak banyak.

“Alhamdulillah kalau penolakan di kami tidak ada. Paling di sekolahan tadi ada anak enggak berangkat karena sakit, tapi enggak banyak, paling satu kelas satu,” kata Kepala Puskesmas Pandanran, Aprilia Mahatmanti.

Share this Article
Leave a comment