INDORAYA – Balai Latihan Kerja (BLK) Semarang 1 menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Analisis Kebutuhan Pelatihan: Peningkatan Daya Saing Lulusan BLK di Era Industri 5.0 dan Penandatanganan Kemitraan BLK Semarang 1 dengan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Komunitas” yang berlangsung di Aula BLK Semarang 1, pada Kamis (18/9/2025).
Acara tersebut diikuti oleh 32 orang peserta, di mana sekitar 90 persen di antaranya adalah lulusan sarjana dari berbagai universitas di Jawa Tengah. Para peserta juga merupakan bagian dari program PBL Smart Creative Skill.
FGD ini diselenggarakan untuk mengkaji kebutuhan pelatihan di sektor pariwisata, perhotelan, serta untuk Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI). Hasil diskusi tersebut akan digunakan sebagai dasar dalam penyusunan kurikulum dan program pelatihan yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar.
Kepala BLK Semarang 1, Siti Zubaedah A., menjelaskan bahwa minat masyarakat untuk mengikuti pelatihan cukup tinggi. Dari sekitar 70 pendaftar, sebanyak 40 orang mengikuti proses seleksi, dan 32 peserta berhasil lolos untuk mengikuti pelatihan yang diselenggarakan secara luring dan daring.
“Pelatihan ini berlangsung selama empat hari, dimulai sejak tanggal 15 kemarin. Para peserta sudah diberi pembelajaran sekaligus masuk asrama. Dari total 32 peserta, 90 persen adalah lulusan S-1,” ujar Siti dalam sambutannya.
Ia juga menyebut bahwa peserta datang dari sejumlah perguruan tinggi ternama, seperti Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, hingga Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
“Mereka ada yang dari UGM, Undip, Unnes, Unsoed, Udinus, hingga UMM,” sambungnya.
Siti menilai bahwa pelatihan ini sangat penting untuk membekali peserta agar lebih siap dalam menghadapi tantangan dunia kerja.
“Ini butuh perhatian kita bersama, bahwa anak-anak memang harus dipersiapkan agar siap bersaing di dunia kerja,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Tengah, Ahmad Aziz, mengatakan bahwa tingginya jumlah lulusan S-1 yang ikut pelatihan menunjukkan tantangan besar yang harus dihadapi pemerintah. Menurutnya, hal ini mencerminkan kebutuhan akan reskilling dan upskilling.
“Ini tantangan bagi kita. Banyak lulusan perguruan tinggi masih membutuhkan keterampilan tambahan yang mungkin belum optimal. Ada juga yang melakukan reskilling, misalnya dulu jurusannya A, tapi sekarang ingin punya keahlian di bidang lain. Dengan begitu mereka tidak hanya punya satu keterampilan, tapi juga kemampuan tambahan sehingga lebih mudah mencari pekerjaan,” jelas Aziz.
Aziz mengapresiasi langkah BLK Semarang 1 yang menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dunia industri dan usaha.
“Maka tadi kita hadirkan beberapa pihak seperti perguruan tinggi, NGO, dunia usaha, dan industri. Kita juga punya Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dengan Industri (FKLPID). Harapannya, pelatihan di BLK benar-benar menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa selain keterampilan teknis, kesiapan mental juga sangat dibutuhkan oleh para pencari kerja.
“Jangan sampai keterampilan teknisnya bagus, tapi mentalnya lemah. Pekerjaan itu bukan sekadar keinginan, melainkan kebutuhan,” tegasnya.
Menurutnya, kesiapan mental sangat penting terutama bagi mereka yang baru pertama kali terjun ke dunia industri.
“Misalnya di bagian operator, jam kerja bisa tujuh jam bahkan harus berdiri. Maka itu kita siapkan di BLK agar mereka tidak kaget,” jelasnya.
Aziz menambahkan, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Tengah saat ini berada di level 4,33 persen, lebih rendah dibanding provinsi lain seperti Banten dan Jawa Barat.
“Ini membuktikan bahwa investasi di Jawa Tengah memberi kesempatan kerja luas, terutama di sektor industri padat karya yang banyak menyerap tenaga kerja,” tandas Aziz.


